Tentang Water Fasting

18 July 2018
Comments: 0
18 July 2018, Comments: 0

Seorang teman bertanya kepada saya, seputar diet yang dilakukan temannya. Ia agak khawatir karena menurut dia apa yang dilakukan temannya ini tergolong radikal. Nama dietnya adalah Water Fasting, selanjutkan kita singkat menjadi WF. Memang saat ini WF adalah salah satu fenomena yang kini sedang menjadi tren di masyarakat. Apa itu? Dan kenapa bisa begitu kuat gaungnya?

Sesuai namanya WF, adalah upaya mengganti makanan dengan hanya mengkonsumsi air selama kurun waktu tertentu. Kenapa yang dipilih air? Salah satu penjelasan utama dari pelaku diet ini karena air adalah elemen yang paling utama pembentuk tubuh. Dengan itu dipercaya bahwa tubuh bisa melakukan fungsinya secara normal dalam beberapa waktu tertentu, bila pasokan air terjaga baik. Terlepas dari masalah nutrisi, kalori atau kebutuhan lainnya dihentikan sementara. Kita sendiri sebenarnya tidak terlalu asing dengan konsep ini, yang biasa kita sebut dengan puasa. Bedanya di sini puasa diregulasikan dengan hanya mengkonsumsi air.

Puasa berbasis air sendiri telah dikenal dalam sejarah dalam beberapa versi. Semisal agama Jain, sebuah kepercayaan kuno dari India, yang dikenal melakukan ritual menghindari makanan dalam kurun waktu tertentu setiap tahun, dengan tidak makan dan hanya minum air putih selama 8 hingga 10 hari. Dalam versi lain diceritakan bahwa makanan ringan, yang berbasis buah-sayuran, dikonsumsi dalam periode tertentu. Pemeluk agama Katolik Roma, juga akrab dengan tradisi Eucharist Fast, atau puasa ekaristi, yang umum dilakukan dengan hanya minum air sebelum ritual Komuni Kudus. Kedua ritual ini kendati berbeda, memiliki prinsip dasar serupa, hanya bermodalkan air untuk menjadi sandaran utama penyangga hidup dalam periode waktu yang ditentukan.

Terlepas dari tujuan agama, secara logika, sebenarnya puasa air mempunyai makna meringankan tubuh dari beban cerna yang terbiasa dikonsumsi sehari-hari. Dalam dunia kesehatan yang memberdayakan kekuatan tubuh menyembuhkan diri, naturopati, semisal. Prinsip dasar ini digunakan untuk melakukan upaya ‘pembersihan’ tubuh. Sesuatu yang populer dengan istilah detoksifikasi. Karena bebas dari beban yang rutin dijalani, tubuh memiliki ekstra energi untuk melakukan banyak hal secara lebih intensif. Salah satunya adalah dengan membuang tumpukan racun tubuh yang tidak terbuang dengan fungsi detoksifikasi alami harian. Sampai hari ini beragam bentuk program detoksifikasi telah dikenal di masyarakat luas. WF adalah salah satu bentuk populernya.

 

SALAH KAPRAH

Sayangnya pendekatan WF sebagai upaya detoksifikasi lambat laun berubah menjadi diet pengurang berat badan, akibat efek yang ditimbulkan. Puasa air memang memotong pemasukan kalori bagi tubuh dalam jumlah drastis. Hal ini disikapi tubuh dengan beragam cara agar semua bisa tetap berfungsi normal. Salah satunya dengan menggunakan cadangan lemak. Itu sebabnya puasa air sering membuat berat badan turun dan lingkar pinggang mengecil. Masalahnya saat puasa air berhenti dilakukan, dan memang harus berhenti pada waktu tertentu, pelakunya akan kembali pada pola hidup lamanya yang membuat berat badannya kembali naik. Dia akan menggunakan metode WF ini sebagai jalan keluar pintas menurunkan kembali berat tubuhnya. Di sini terjadi salah kaprah, yang bisa berakibat fatal bila diterapkan dalam jangka panjang.

Menggampangkan puasa air sebagai jalan pintas pengurang berat tubuh bila dilakukan berulang-ulang akan memberikan kondisi abnormal. Banyak organ yang harus menyesuaikan diri dengan siklus baru ini, dan sistem tubuh juga akan terpengaruh. Tidak hanya kebutuhan kalori yang absen terus menerus, tapi juga enzim, vitamin, mineral dan banyak lagi unsur vital bagi kebutuhan tubuh yang biasa masuk bersamaan dengan makanan menjadi hilang. Jangan heran bila suatu saat mereka yang menyalahgunakan WF terindikasi penyakit berat, atau jatuh sakit berkepanjangan, karena mereka sedang melakukan upaya yang merusak kesehatan dirinya sendiri.

Di sisi lain pelaku WF yang memanipulasi sebagai pengurang berat badan, sering mengabaikan aturan penting bahwa aktivitas ini dilakukan saat tubuh sedang tidak mengalami banyak beban. Karena pasokan kalori dan unsur penting lainnya berkurang drastis, puasa air dilakukan sebaiknya dalam keadaan santai. Libur akhir pekan atau cuti panjang adalah masa yang ideal untuk melakukan ini. Istirahat memberi banyak efek positif bagi aktivitas detoksifikasi seperti WF ini. Energi tubuh bisa terpusat untuk hal-hal penting, bila muncul rasa tidak nyaman saat tubuh menguras tumpukan racun tidak akan terlalu menyiksa. Anda pun bisa mengkompensasinya dengan tidur, melakukan pijat relaksasi, berendam air hangat dan lain sebagainya.

Sayangnya karena tujuan WF telah berubah menjadi aktivitas pengurang berat tubuh, kenyamanan ini dihilangkan dan dimasukan dalam kalendar kegiatan sehari-hari. Bahkan dibebani target berlebihan. Saya sering kali melihat teman pelaku puasa air yang terganggu performa hariannya karena lemas, atau mengalami pusing kepala akibat kekurangan pasokan makanan. Sama seperti yang dikhawatirkan teman saya di awal tulisan ini. Dan potensi kerusakan jangka panjang yang telah kita bahas, akan jauh lebih mengerikan bila puasa air ini terus menerus dipadukan dengan aktivitas kerja sehari-hari yang sebenarnya cukup berat.

 

TUBUH SEHAT ADALAH TUJUAN UTAMA

Jangan pernah melupakan bahwa sehat adalah modal utama kita sebagai manusia. Apapun yang kita lakukan, apapun yang kita inginkan, apapun yang kita idamkan, seharusnya tetap mengacu pada kondisi dimana kesehatan tetap terjaga dengan baik. Pernah membayangkan apa yang terjadi bila sepanjang hidup kita sakit-sakitan? Bila itu terjadi tidak ada satu pun yang kita miliki menjadi berarti.

Mereka yang melakukan puasa air, tidak luput dari prinsip yang sama. Seharusnya apa yang dilakukan mengacu pada itikat meningkatkan kualitas hidup dengan memelihara atau bahkan meningkatkan kesehatan. WF hanyalah alat untuk mencapai itu semua. Apapun yang terjadi kemudian, semisal kehilangan sekian kilogram berat badan, harus tetap memastikan bahwa diri tetap sehat. Jangan gembira berat badan turun, namun pada saat bersamaan kesehatan ikutan menurun drastis. Jangan bergembira ukuran pinggang menyusut tapi tubuh menjadi lemah berkepanjangan. Pernah saya bertemu dengan orang yang mengklaim rutin melakukan WF, tapi tampilan dirinya jauh dari sehat, kulit mengering mengeriput, kusam, serta gerak-geriknya tampak jauh dari seseorang yang segar bugar. Dari kacamata orang awam pun kita tahu bahwa dia tidak sehat.

Jangan sampai Anda rutin melakukan puasa air hanya terkelabui oleh efek temporer yang muncul, seperti berat badan dan lingkar pinggang berkurang, dan menisbikan kondisi kebugaran. Apalagi bila dilakukan berulang-ulang hanya untuk mengejar efek tersebut. Yang lebih parah lagi, pasca melakukan WF, terkesan dengan hasil yang didapat, setelah itu menjadikannya sebagai senjata pengurang berat badan tubuh. Dalam keseharian kembali makan-minum seenaknya, kadang bahkan lebih buruk. Begitu berat tubuhnya kembali naik, ia bergegas melakukan WF. Jangan heran bila orang dengan mental seperti ini suatu saat ditemui menderita penyakit serius atau bahkan mendadak mengalami musibah terkait hilangnya kesehatan.

Kembalikan aktivitas WF ini ke kodratnya, pemelihara kesehatan. Lakukan secara benar. Bila fungsi dasarnya dipercaya sebagai sarana penguras racun tubuh semisal, lakukan sesuai aturan waktu yang benar. Semisal setiap enam bulan sekali. Bila Anda pemula, bisa jadi dilakukan 2-3 hari saja dan memilih akhir pekan yang santai sebagai momen untuk mengerjakan. Pada intinya kesehatan tetap terjaga dengan baik
Semoga berguna

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *