Proses Yang Membangunkan Intelegensia

15 April 2018
Comments: 0
15 April 2018, Comments: 0

Dalam satu kesempatan, seorang teman yang baru beberapa kali hadir dalam kelas yoga saya, bertanya, “Kapan saya diajarin headstand? Kalau di gym, hampir semua instruktur ngajarin itu, padahal kita peserta baru dalam kelasnya”. Saya cuma meringis mendapatkan pertanyaan tersebut. Teman saya mungkin bingung, karena apa yang saya lakukan sebenarnya tidak menjawab pertanyaan dia juga.

Terlepas dari masalah salah atau benar. Saya hampir tidak pernah mengajarkan materi sirsasana, head balance, pose keseimbangan dengan menggunakan kepala dalam kelas reguler, kalau saya tidak mengenal benar semua peserta yang hadir. Setidaknya mereka yang sudah memiliki dasar pemahaman teknik cukup baik.

 

INTELEGENSIA MENCEGAH CEDERA

Apakah saya pelit? Mungkin juga! Saya tidak mau mengobral asana -olah postur bagian yoga- hanya untuk membuat orang hadir ke kelas saya. Apakah saya tidak mampu? Bisa jadi! Saya tidak sanggup membuat orang yang saya nilai tidak mampu bisa melakukan sesuatu secara instan, tanpa menghadirkan masalah kemudian. Apakah saya penakut? Sangat mungkin! Memicu cedera pada orang lain akibat keteledoran saya, adalah hal yang sangat menakutkan.

Butuh waktu bertahun-tahun untuk saya bisa melakukan sebuah pose yoga, dari mulai sederhana hingga yang rumit. Sampai hari ini pun dalam setiap latihan saya masih bisa merasakan proses perbaikan atau koreksi yang terjadi melengkapi apa yang sudah saya ketahui. Fenomena ini membuat saya memiliki kerangka metode mengajar yang berbasiskan tahapan-tahapan untuk melakukan. Bukan sekedar mengejar agar bisa melakukan secara instan. Bukan kebetulan bila tradisi Iyengar, dimana saya mendedikasikan waktu belajar dan mengajar, menekankan pada hal demikian.

Untuk menguatkan argumentasi itu, berikut saya sajikan bagian dari percakapan antara dua tokoh yoga dunia, TKV Desikachar dan BKS Iyengar. Dua tokoh ini, Desikachar dan Iyengar, resminya berbincang dalam sebuah wawancara resmi. Karena sebagai tokoh yoga dunia, Desikachar diutus oleh sebuah yayasan di Amerika Serikat, Apperture Foundation, menggali informasi tentang pendekatan yoga dan kesehatan serta penyembuhan penyakit dari guruji, yang tidak lain dan tidak bukan sebenarnya adalah paman langsungnya sendiri. Ayah Desikachar, Krisnamacharya, adalah kakak ipar sekaligus guru yoga dari sang paman, guruji Iyengar. Wawancara ini dimaksudkan untuk menjadi bagian dari buku yang ditulis secara keroyokan oleh berbagai ahli kesehatan dunia, The Awakening Body, Mind, and Spirit.

———————-

TKV Desikachar : Bagaimana yoga bisa menjadi pilihanyang diterima secara mendunia sebagai bagian dari perawatan kesehatan yang aplikatif dalam kehidupan sehari-hari

BKS Iyengar : Kalian akan menulis buku berjudul Awakening Body (membangun tubuh) untuk sehat bukan? Saya tidak bisa berkomentar banyak dengan pemilihan judul tersebut. Karena buat saya yang dibangunkan bukan melulu tubuh, namun intelegensia untuk menggerakkannya. Sebagai contoh, seseorang berkata, Saya bisa melakukan Padmanasana, (Pose Lotus, penulis) tapi ucapan tersebut hanya datang dari sisi pemikiran subyektifnya semata. Intelegensia lutut harus diaktifkan mengatasi kelemahan dan kesulitan yang dialami, agar bisa bertemu dengan intelegensia otak untuk bisa melakukan pose tersebut dengan sempurna. Apa yang terjadi saat pikirannya mengambil alih secara sepihak menganggap bahwa dirinya mampu melakukan Padmanasana, tanpa menghiraukan rasa sakit yang muncul? Egonya mengeliminir rasa sakit, dan tetap memaksa melakukan. Pemaksaan terjadi mayoritas diakibatkan ketidak tahuan cara mengatasi masalah, dan berujung pada munculnya cedera. Nah apa yang dilakukan untuk mengatasi cedera itu? Pergi ke dokter? Operasi? Apakah itu menjawab masalah? Memaksakan diri melakuka Padmanasana secara sepihak padahal sebenarnya tubuhnya belum mampu melakukan secara benar? Sehatkah itu?

Metode saya berbeda. Saya melihat hal ini dengan cara sebaliknya. Pertama intelegensia yang tersembunyi dan tertidur berusaha saya bangkitkan. Kita mengaktifkan lutut sedemikian rupa perlahan dan berangsur sehingga suatu saat ia akan bisa melakukan Padmanasana secara benar tanpa menimbulkan rasa sakit, apalagi cedera. Ini saya sebut sebagai membangunkan sesuatu yang tidur, tersembunyi dalam saraf sensorik dan motorik tubuh, membuatnya memiliki kemampuan berkomunikasi serta kerja sama sehingga membangkitkan kemampuan untuk dapat melakukan Padmanasana

———————

Saya hanya mengambil cuplikan dari jawaban panjang lebar guruji Iyengar menyambut pertanyaan keponakannya. Semoga potongan jawaban beliau bisa memberikan sedikit gambaran ketakutan saya mengajarkan sesuatu secara gegabah kepada orang lain di kelas yoga.

 

PROSES

Membangkitkan intelegensia membutuhkan waktu dan kecermatan dalam berlatih yoga. Semua itu tidak bisa diraih secara instan. Bagi saya yang memiliki tubuh sangat tidak ideal untuk melakukan asana yoga, ambil contoh karena serat otot liat dan keras yang saya miliki, beberapa pose membutuhkan latihan keras dan kadang menyakitkan. Semisal, belasan tahun saya belajar yoga, sampai hari ini tumit saya saat melakukan adhomukha svanasana, downward dog pose belum bisa menyentuh lantai. Jaraknya memang memendek, namun perjalanan dari satu sentimeter ke sentimeter lainnya, berlangsung bertahun-tahun dan lewat latihan keras. Masih jauh untuk bisa mendapatkan kesan sesempurna guruji Iyengar. Tapi itulah fase yang harus saya jalani. Proses!

Tapi memang terlalu jauh bila kita membicarakan proses, membangkitkan intelegensia hingga menghindari cedera apabila dikaitkan dengan era perkembangan jaman yang memfasilitasi yoga menjadi satu tren yang mewabah akhir-akhir ini. Dedikasi terhadap proses, mudah tergeser oleh ragam keinginan yang mendasari seseorang melakukan yoga. Ada yang ingin mudah terkenal, ada yang ingin punya pengaruh terhadap sekelompok orang, ada yang ingin diekspos di media publik, ada yang ingin eksis, hingga ada yang sekedar ingin punya cara baru untuk mendapatkan penghasilan. Semua alasan itu dengan mudah menggeser proses sebagai sesuatu yang harus dijalani dalam yoga. Saya pun tidak menyalahkan teman tadi yang ingin lekas bisa melakukan headstand. Bisa jadi karena lingkungan, yang sama-sama melakukan yoga, sudah ramai berlomba memamerkan pose tersebut di Instagram, Facebook, Path atau segudang sosial media lainnya.

Kembali pada diri kita masing-masing sebagai individu, apakah tanya jawab duo maestro yoga di atas akan menjadi acuan dalam menjalani proses beryoga dalam hidup? Atau sekedar memangkas proses demi mempercepat mencapai tujuan?

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *