Miskonsepsi Yoga Terapi

3 April 2018
Comments: 0
3 April 2018, Comments: 0

Proses terapi dalam yoga, terutama dalam hal ini tradisi Iyengar, didasarkan pada logika pemilihan dan pengurutan asana, seni olah postur, tertentu. Yang diharapkan mampu memberikan stimulan di beberapa bagian tubuh, dan memunculkanberagam efek secara anatomis, fisiologis bahkan psikologis. Yang tentunya diharapkan juga, memberikan perbaikan kondisi. Bisa jadi mempercepat tubuh menyembuhkan diri, mencegah penyakit maupun merawat tubuh agar selalu berada dalam kondisi sehat.

Hanya saja harus ingat, bagaimanapun juga, dalam beberapa kasus penyakit serius yoga asana mungkin tidak memberikan efek pemulihan penuh, apalagi instan. Namun di banyak kasus tadi, pendekatan yoga dapat meringankan rasa sakit, rasa tidak nyaman, dan penderitaan. Dan sangat membantu dalam proses penyembuhan.

 

Solusi Sementara
Berdasarkan hal itu, agak repot bila menempatkan yoga sebagai sebuah solusi kesehatan alternatif pengganti tindakan medis. Seperti yang akhir-akhir ini diharapkan oleh banyak orang. Terutama saat semakin menjamurnya yoga dalam kehidupan bermasyarakat akhir-akhir ini. Harapan tadi bertemu dengan meningginya tingkat persaingan antar pengajar serta instruktur yoga sehingga tidak sedikit janji kesembuhan atau sesi khusus terapi ditawarkan oleh mereka, sekedar mencari peluang pasar.

Di sini kita harus sedikit lebih berhati-hati, karena pendekatan demikian pasti rentan berubah menjadi situasi menjebak. Terutama bila dihadapkan pada keinginan besar untuk sembuh dari sakit. Banyak orang menginginkan hasil instan, atau cepat, seperti layaknya mereka pergi ke dokter dan menjalani pengobatan. Saya berani memastikan kesembuhan yang diharapkan akan tidak terjadi. Kenapa?

Banyak orang yang mencari kesembuhan dengan pergi ke dokter atau menjalani ritual medis konvensional memiliki pemahaman budaya instan dalam menghadapi penyakit. Yaitu mereka jatuh sakit, pergi ke dokter, menjalani terapi, dan lalu sembuh. Setelah itu mereka akan menjalani kembali kehidupan normal seperti biasa. Hingga nanti jatuh sakit lagi, mereka akan menjalani ritual sama. Problemnya di sini, banyak sekali penyakit tersebut hadir akibat kesalahan dalam menjalani hidup itu sendiri, sesuatu yang disebut di atas sebagai ‘kehidupan normal’. Namun mayoritas tidak ada yang menyadari hal tersebut.

Penderita backpain semisal, sering mereka tidak sadar bahwa masalah tersebut hadir akibat kesalahan mereka dalam menjalani keseharian, berpostur terutama. Mereka cuma sadar ada yang salah saat backpain menyerang, minum obat, atau pergi ke dokter, bahkan ke tukang pijat adalah solusi yang ditempuh secara umum. Ritual kebiasaan ini menjadi kontradiktif saat berhadapan dengan realita informasi yang kini ramai diperbincangkan, bahwa kebiasaan minum obat secara rutin akan memberikan masalah kesehatan jangka panjang, bahwa tidak semua prosedur medis konvensional itu aman dan memberikan solusi beberapa bahkan rentan terjadi malpraktek atau masalah di masa depan. Informasi yang di satu sisi menyadarkan bahwa menggantungkan harapan begitu saja adalah tindakan salah. Di sisi lain informasi itu tidak menyadarkan masyarakat bahwa pola pikir mereka lah yang sebenarnya harus diubah, bukan cara mengatisipasinya.

Sayang sekali banyak dari mereka mengantisipasi dengan melakukan pemahaman serupa, mencari solusi terapi alternatif. Pergi ke dukun, tukang urut, minum obat-obatan herbal dan sesuai dengan tema tulisan ini, pergi ke instruktur yoga yang menjanjikan kesembuhan atas masalah kesehatan yang dihadapi. Sri Nanda Kumar, pemilik Yoga Shala Malaysia -salah satu murid langsung #BKSIyengar tokoh yoga legendaris yang merupakan pionir yoga untuk pendekatan terapi dengan metode terukur- mengatakan, “Pendekatan yoga untuk masalah kesehatan seringkali sebenarnya merupakan solusi temporer, sementara”. Kenapa temporer? Memang pendekatan yoga tertentu bisa memberikan solusi bagi sebuah masalah secara cepat dalam beberapa kasus. Saat kita bicara yoga, kita bicara tentang Asana tentunya. Semisal, pose Ardha Halasana ini, bila Anda terapkan pada mereka yang sedang terserang influensa dan tersumbat hidungnya, dalam hitungan menit bahkan detik nafasnya akan menjadi lega.

Masalahnya kembali pada fakta bahwa solusi yang ditawarkan bersifat sementara. Hidung Anda menjadi lega, namun virus influensa bukan berarti hilang dari tubuh. Asana ini memang secara terukur mampu menyiapkan tubuh untuk lebih mudah melawan serta mengenyahkan musuh yang sedang menyerang, tapi bila hanya diterapkan sesekali atau hanya saat sakit menyerang, tidak banyak berguna.Dalam kasus lebih serius pun, penderita scoliosis –derajad kemiringan tulang punggung-bisa mendapatkan perbaikan kondisi yang luar biasa bila menerapkan pose ini sesuai aturan. Namun hasil itu hanya muncul saat latihan yoga dengan metode tertentu dilakukan secara intensif dan penuh komitmen, serta berlangsung seumur hidup.

Kalau Anda mengandalkan yoga sebagai terapi namun perlakuan yang diberikan sama seperti konsep metode pengobatan konvensional, ya bersiaplah untuk kecewa. Bisa jadi gagal total. Atau dalam skenario lainnya, sakit mungkin sembuh sesaat, tapi setelah Anda kembali ke kehidupan normal, masalah lama akan muncul lagi, bahkan kadang disertai dengan masalah baru. Yang lebih buruk lagi, saat Anda kembali ke yoga untuk memperbaiki, bisa jadi tidak berdaya, tidak mempan lagi.

 

Perawatan dan Pencegahan

Apa yang harus Anda lakukan dalam menghadapi masalah kesehatan dengan yoga? Sebenarnya sama dengan konsep tentangkesehatan secara hakiki yang berlaku dari dulu hingga sekarang, Anda sehat bila tubuh dirawat dan mencegah penyakit untuk hadir dalam kehidupan. Dalam kasus ini untuk Yoga juga berlaku hal sama, mencegah dan merawat. Backpain yang dibahas tadi semisal, dalam kondisi mayoritas, hadir akibat akumulasi kesalahan postural: kaki yang lemah, struktur berdiri yang salah, beban pada lumbar -tulang punggung bawah- terlalu berlebihan dan segudang contoh kesalahan lainnya. Yoga yang dilakukan secara intensif akan melatih awareness, rasa awas, terhadap postur tubuh secara paripurna. Saat Anda berlatih rutin, struktur tubuh akan menjadi benar dan kuat serta terkoneksi baik antar lini – antar fungsi. Sesuatu yang bisa dikonversikan dalam hidup keseharian.

 

Perhatikan contoh gambar berikut, berlatih asana trikonasana akan menciptakan koordinasi antar struktur tubuh yang baik sehingga saat menjalani aktivitas sehari-hari, tanpa sudur tubuh yang terkoordinasi baik itu akan mengambil fungsi masing-masing sesuai porsinya dan saling melindungi. Anda akan duduk tegak, berdiri kokoh, bergerak, berlari, melompat dengan aman. Tubuh terawat, problem penyakit tidakmudah muncul. Ini memenuhi konsep harmoni yang menjadi ide dasar yoga yang diamini secara universal, “penyelaras antara tubuh-pikiran-jiwa”.

 

Terapi

Dalam kasus lain BKS Iyengar pernah mengatakan, “Hidup itu seperti siklus, ada kalanya Anda sehat, ada kalanya mengalami cedera dalam menjalani keseharian, saat itulah yoga bisa menjadi solusi”. Saat dalam kondisi tertentu tubuh Anda mengalami masalah, ini bisa jadi momen di mana yoga memang bisa diterapkan ke depan untuk alternatif terapi. Katakanlah Anda berjalan berjam-jam, bersepeda jarak jauh, mengangkat beban berat di luar kebiasaan, atau musibah kecelakaan, yoga sebagai solusi sementara bisa memberikan jalan keluar. Di sini apa yang disampaikan muridnya Sri Nanda Kumar bisa dijadikan acuan.

Terapi dalam tradisi Iyengar memang menjadi seni yang tersendiri yang sangat mengagumkan aplikasinya. Namun dibutuhkan semangat, passion, pengetahuan serta dedikasi dan determinasi yang sangat tinggi untuk bisa dikuasai. Anda tidak bisa mengetahui apa efek yang ditimbulkan dari asana Salamba Sarvangasana secara nyata, bila Anda sendiri tidak bisa melakukannya secara benar dan dalam durasi tertentu. Mungkin Anda bisa membaca, pose ini menenangkan pikiran, merevitalisasi metabolisme, memperbaiki kinerja pencernaan, kerja otot diafragma dan lain sebagainya. Tapi bagaimana mengaplikasikannya secara benar?Pengetahuan itu hanya hadir bila Anda pernah melakukannya secara benar juga. “Saya harus menjadikan tubuh saya seperti laboratorium uji coba dulu, baru saya bisa mengaplikasikannya pada orang lain” Ucap guruji Iyengar menegaskan hal tersebut.

Jangan mengaplikasikan konsep terapi yoga ini pada orang lain, bila pengajarnya sendiri belum tahu atau bahkan belum pernah melakukannya secara benar. Di sini kita harus berhati-hati dalam menempatkan yoga sebagai terapi. Apalagi bila menjadikannya pengganti pengobatan medis konvensional. Karena rentan sekali terjadi miskonsepsi, pemahaman konsep yang salah tentangnya. Dan bukan tidak mungkin malah berakibat fatal.

Selamat berlatih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *