Malfungsi Daya Tahan Tubuh

29 April 2018
Comments: 0
29 April 2018, Comments: 0

“Anak saya alergi parah nih, apa saja bikin alergi. Kasian deh, seumur hidupnya dia harus hati-hati terhadap ini dan itu. Repot banget hidupnya”, “Kondisi alergi ini sih gak bisa diapa-apain, kan dia sudah dites. Badannya memang alergi terhadap banyak hal dari sononye” Beberapa kali saya bertemu dengan orang yang mengadukan atau mengajak berdiskusi tentang alergi. Seringkali reaksi seperti di atas dipaparkan serta dikondisikan dengan rasa pasrah, seakan tidak bisa melakukan apa-apa. Takdir dari Tuhan.

 

Pertanyaannya, benarkah Tuhan sekejam itu? Saya cuma bisa tersenyum dan seperti biasa berkata, Tidak! Tuhan tidak pernah kejam dalam menciptakan manusia. Lebih sering manusianya yang belaku kejam”

 

Bahkan terhadap dirinya sendiri

 

REAKSI DAYA TAHAN BERLEBIHAN

Alergi adalah reaksi sistem kekebalan tubuh terhadap sesuatu yang dianggap berbahaya walaupun sebenarnya tidak berbahaya. Bisa berupa sesuatu yang masuk atau sekedar bersentuhan dengan kulit. Alergen, atau pemicu alergi, hanya berdampak pada orang yang memiliki alergi tersebut. Beberapa jenis substansi yang dapat menyebabkan reaksi alergi meliputi gigitan hewan, debu, bulu hewan, obat, makanan tertentu dan sebagainya. Saat tubuh pertama kali berpapasan dengan sebuah alergen, ia akan memproduksi antibodi, semacam reaksi pertahanan, karena menganggapnya sebagai sesuatu yang berbahaya. Produksi antibodi itu yang memberikan reaksi mengganggu bagi kehidupan normal, bisa berupa batuk, produksi lendir hingga gatal berlebihan, atau dalam kasus lebih serius, tubuh menjadi lemas dan kehilangan vitalitas. Jika tubuh kembali bertemu dengan materi alergen yang sama, tubuh akan meningkatkan jumlah antibodi. Yang jelas lebih merepotkan. Dengan kata lain, tubuh manusia bereaksi berlebihan terhadap lingkungan atau bahan-bahan yang oleh tubuh dianggap asing dan berbahaya, padahal sebenarnya itu hal normal untuk orang kebanyakan.

 

Tubuh memiliki sistem pertahanan yang sangat kompleks dan sangat ampuh dalam menangkal serangan dari luar. Bila Anda kemasukan bakteri atau virus semisal, reaksi tubuh untuk menyikapi sangat canggih, mulai dari otak mengenali, mengirim pasukan awal, mendeteksi masalah, memproduksi senjata pelumpuh, menyiapkan pasukan lebih kuat, mengatasi masalah, membersihkan sisa bakteri atau virus yang sudah dilumpuhkan, hingga menyimpan data tentang musuh yang baru masuk sehingga saat ia masuk lagi tubuh sudah memiliki cara mengatasi dengan mudah.

 

Kecanggihan tersebut sayangnya tidak berlaku saat musuh muncul dari dalam. Maksudnya? Masalah yang muncul dari gaya hidup pemilik tubuhnya sendiri. Mengkonsumsi makanan yang tidak dibutuhkan, tidak sesuai dengan sisem kerja tubuh manusia semisal. Daya tahan tubuh lemah terhadap hal ini dan bisa dibilang tidak berdaya mencarikan jalan keluar. Konyolnya reaksi yang dilakukan untuk mempertahankan diri, malah rentan berbalik menyerang tubuhnya sendiri. Di sini logika dasar kenapa alergi terjadi. Sebuah benteng yang kuat, mungkin bisa bereaksi bagus dalam bertahan saat menghadapi musuh yang datang dari luar. Tapi benteng itu bisa jadi tidak berdaya, saat ia dirusak dari dalam oleh pengkhianatan penghuninya sendiri.

Manusia yang dirutinkan minum susu, protein hewani, makanan yang tidak memiliki enzim atau antioksidan, mengkondisikan tubuh sudah harus menyiapkan daya tahan sekedar untuk menghadapi makanan yang masuk. Bayangkan bila ini dilakukan bertahun-tahun. Apalagi saat dilakukan dari ia berusia dini. Apa yang terjadi ke depannya? Jelas kualitas hidup yang rendah akibat daya tahan tubuhnya bekerja terlalu aktif hingga bereaksi terhadap hal-hal yang sebenarnya normal saja buat orang kebanyakan. Alergi kebanyakan hanyalah turunan dari kondisi malfungsi daya tahan tubuh.

 

PENGUBAHAN POLA MAKAN

Saya sering sekali menemukan, keluhan orang tua terhadap anak yang reaksi alerginya segudang, memiliki kesamaan pola antara satu sama lainnya. Pemahaman makan sehat yang minim! Sebagai pelaku #Foodcombining (FC), saya penganut logika makanan adalah soko guru utama kesehatan. Tadi kita sudah membahas daya tahan tubuh yang luar biasa kuat dan kompleks serangan dari luar, namun lemah terhadap pengkhianatan yang dilakukan pemilik tubuh dari dalam. Makanan adalah faktor utama masalah tersebut. Kembali ke masalah orang tua tadi, orang tua yang mengeluh pada saya saat anaknya direpotkan masalah ini itu, umumnya awam sekali dengan pola makan sehat. Semisal, mereka rutin memberi anak mereka minum susu hewan yang dianggap sebagai substansi kesehatan primer. Setelah dijelaskan tentang kerugian minum susu dan kemungkinan erat kaitannya terhadap alergi anak, banyak dari orang tua tersebut yang melaporkan hasil positif saat mereka menghapus susu dari menu harian dan mengganti dengan pola makan sehat sejati. “Gangguan kulit anak saya hilang”, “Mudah gatal kalau kena debu anak saya gak ada lagisejak FC”, “Asma kambuhannya si anu (sebut nama anak) sekarang hilang, mas” Adalah segelintir reaksi positif yang pernah saya terima.

Seorang pelaku FC pernah bercerita pada saya dengan antusias, terkait alergi makanan yang dia miliki. “Mas, sekarang gue gak lagi alergi sama ikan laut! Seneng banget!” Dengan wajah berseri-seri dia bercerita, dari kecil dia itu alergi terhadap segala bentuk produk laut. Jangankan makan, minum kuahnya saja dia sudah bisa gatal-gatal dan tubuhnya dipenuhi bentolan kecil seharian. Tapi sejak dia menjalani FC, perubahan pola makannya memberikan kondisi kesehatan dan kualitas hidup yang jauh lebih baik. Suatu hari dia iseng mencoba makan sebelah bagian ikan laut di restauran sebuah restauran. Tunggu punya tunggu, ternyata tubuhnya tidak memberikan reaksi apa-apa. Ia nekat mengkonsumsi sebelah bagiannya lagi. Dan hasilnya, seharian penuh tidak terjadi apapun dalam kesehatannya. Ia baik-baik saja. Sampai hari ini, masalah alergi makanan lautnya telah menghilang.

Benarkah menghilang? Saya lebih suka mengatakan, selama tubuhnya disehatkan oleh pola makan barunya, masalah daya tahan tubuh berlebihan yang ia miliki terkait produk laut memang menghilang. Tapi bila pola makan tersebut ditinggalkan, saya yakin reaksi alergi itu akan segera ia dapatkan kembali. Itulah sebabnya, mengatakan bahwa reaksi alergi terhadap beberapa substansi makanan tertentu, terutama setelah dideteksi lewat Food Allergy Test, bukan berarti menjadi hukuman seumur hidup. Jangan berpendapat seperti demikian dulu, kalau kita tidak mengubah gaya hidup yang dijalani dengan sesuatu yang lebih baik. Anak yang terbiasa minum susu rutin, lalu tubuhnya dipenuhi serangkaian alergi makanan. Ada baiknya dicoba dulu untuk diganti total pola makannya, diberikan asupan makanan yang lebih baik. Bisa jadi seiring tubuhnya menjadi sehat, reaksi alergi berlebihan terhadap beragam makanan (yang seharusnya) normal juga menghilang.

Semoga berguna

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *