Latihan Rutin Yang Mengubah Kebiasaan

10 February 2014
Comments: 18
Category: On Health, Yoga
10 February 2014, Comments: 18

Satu hari sahabat baru, Nabilah, datang dan berlatih di studio yoga saya. Dari cara dia berdiri, bahasa tubuhnya memperlihatkan kalau ia menyimpan satu masalah struktural. Propriosepsis, kemampuan untuk mengontrol postur dalam kapasitas sesungguhnya. Fleksibilitasnya tinggi, namun alignment tubuhnya sangat buruk. Terlihat saat ia melakukan beberapa pose yoga standar.  Untungnya ia memiliki tubuh yang cukup besar dan kuat untuk golongan wanita Asia, jadi ia bisa menahan sakit (entah diekspresikan lewat air muka atau saat ia terang-terangan mengeluh) serta tubuhnya cukup kokoh melakukan semua pose yoga sesuai dengan instruksi saya. Kebetulan pose yoga dengan tradisi Iyengar yang saya jalani memang menekankan alignment tubuh. Dimana proses mendapatkan sebuah pose yoga ditempatkan lebih penting ketimbang fase final, yang sekedar mengacu pada tampilan akhir.

Cle “Untuk apa melakukan pose yoga sekedar menarik untuk difoto atau bergaya, tapi tubuh Anda menderita saat melakukannya? Bisa-bisa bukan manfaat yang Anda dapatkan, tapi malah cedera akumulatif yang jadi permanen” kutipan kalimat almarhum Cle Souren, guru saya, yang merupakan salah satu murid paling senior dari sang master yoga BKS Iyengar. Sekedar untuk memperlihatkan betapa intens tradisi Iyengar dalam memperhatikan alignment dan detil tubuh di setiap latihan asana (pose) yoga.

Kembali ke sahabat baru ini, saya segera dapat menebak profesi atau setidaknya apa yang sering dia lakukan dalam kesehariannya. “Kamu penari?”.

Dia mengangguk.

 

Postur Keseharian

Kenapa penari? Bukan profesinya yang saya sorot. Tapi lebih kepada bahasa tubuh yang umum ditemui dari para penari, akibat latihan rutin yang bertahun-tahun mereka lakukan. Nabilah adalah penari yang telah puluhan tahun menekuni dun tari. Entah itu berupa ballet classic, tari kontemporer hingga ke tarian tradisional. Dia melakukan semuanya. And she’s good at it

Nabilah

Masalahnya kehebatannya itu terkonversi ke hal lainnya dalam kehidupan di luar panggung tarinya. Sama seperti penari yang umum saya temui, ia juga punya masalah dengan rasa sakit tubuhnya secara struktural. “Back pain gue kalau lagi kumat amit-amit, mas”. Sebuah problem klasik yang dimiliki oleh para penari. Saya selalu membahas ini dari sisi struktural tubuh mereka. Umumnya penari dilatih untuk memiliki fleksibilitas dan dinamika pergerakan tubuh yang jauh diatas rata-rata manusia normal. Latihan keras dan rutin akan menghasilkan menghasilkan tubuh yang mampu melakukan gerakan tarian indah saat di panggung. Sedap dipandang mata.

Tapi di atas panggung berbeda dengan keseharian, tubuh pelaku tari justru menjadi canggung saat mereka harus menjalani kehidupan sehari-hari. Berdiri, berjalan, berlari, membungkuk, hingga duduk. Sikronisasi tubuh yang seharusnya dibangun lewat rangkaian kerja muskuloskeletal (otot-tulang) terpadu rapi, umumnya berantakan dalam keseharian tubuh seorang penari. Tidak heran kalau kebanyakan penari biasa tidak memiliki karir yang panjang, mereka harus segera pensiun saat tubuhnya sudah tidak kuat menahan beban tarian. Dan kata ‘pensiun’ itu rata-rata terjadi di usia yang sebenarnya masih tergolong muda. Hanya segelintir penari yang masih bisa punya karir panjang hingga usia senja. Saya sendiri dalam keseharian sebagai seorang pengajar yoga yang identik dengan dunia kesehatan, sering bertemu para penari atau mantan yang mengeluhkan problem pada areal kaki dan pinging.

Ini salah satu contoh pose klasik dari penari yang menjadi masalah berkepanjangan saat dikonversi dalam kehidupan sehari-hari. Seorang balerina, dari usia dini mereka dilatih melakukan pose khas ballet, Plie. Perhatikan detil kaki mereka saat melakukannya. Bila dilatih bertahun-tahun akan melahirkan bentuk kaki yang mampu melakuan tarian indah, namun kompensasinya, tubuh yang buruk saat menempuh hidup harian. Ingat ledekan khas, “Jalannya seperti bebek” yang umum dialamatkan pada para penari ballet?

Standing Wrong

Tapi sebenarnya problem itu tidak berhenti di sini saja. Foto diatas memperlihatkan efek samping melakukan plie selama bertahun-tahun. Dari waktu ke waktu, inilah bentuk kaki ‘tanpa sadar’ yang biasa dilakukan peballet dalam keseharian (lihat foto-foto kaki di sebelah). Problem berdiri dengan fokus yang salah demikian, sebenarnya umum dialami oleh kebanyakan manusia, tapi dalam kasus penari, khususnya balerina, lebih parah. Efeknya sangat buruk bagi kesehatan Anda, terutama terkait masalah anatomis. Contoh kasus yang paling sering menghantui mereka yang tubuhnya punya tampilan khas seperti demikian, bisa dibaca di sini

–>   http://www.erykar.com/yoga-mengatasi-lower-back-pain-piriformis-syndrome/

Dan jangan sedih, Plie itu baru satu contoh pose yang memberikan masalah akumulatif struktrual dalam keseharian, masih banyak pose lain yang memberikan masalah bagi penari.

 

Solusi Dengan Yoga

Walau masih tergolong muda, Nabila sudah ada di luar usia umum produktif sebagai seorang penari. Ia sudah pensiun sebagai balerina dan tinggal melakukan tarian tradisional dalam beberapa kesempatan terbatas. Tentunya ia ingin keluar dari masalah yang menghantui selama ini. Untuk itu datang ke studio yoga saya, dan bersedia berlatih secara ‘keras’. Kenapa keras diberi tanda kutip? Karena memang latihan yoga, terutama dalam tradisi Iyengar, untuk bisa menuntun Anda keluar dari masalah kesehatan, harus dijalani dengan sangat intens dan bisa jadi menyakitkan.

Tapi sebenarnya serta merta menempatkan yoga sebagai solusi masalah muskuloskeletal klasik begini, sering juga jadi menyesatkan. Sosok dengan kemampuan seperti Nabilah, fleksibilitas terutama, begitu masuk studio yoga, biasa langsung dicap jagoan atau berbakat.

“Bener banget lo, mas. Kemarin gue ikut yoga … (dia sebut salah satu tradisi yoga kontemporer), begitu pertama diliatin mulu sama instrukturnya, pas dateng lagi besoknya, gue langsung disuruh maju kedepan supaya bisa jadi contoh” komentarnya saat mendengar analisa saya.

Ada lagi teman saya, Dea, yang punya karakter tubuh kurang lebih sama dengan Nabilah. Begitu masuk ke satu studio yoga, dia juga langsung disuruh berdiri di depan memperagakan hampir semua perintah instrukturnya. Awalnya ia merasa bangga, tapi belakangan ia mengeluh, “Kenapa setiap abis yoga, badan gue kok kayak maling ketangkep digebugin orang banyak ya?”

Dari sisi ini diperlukan kemampuan mendifferensiasi kelas yoga sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. Dari tradisi hingga ke pengajarnya. Sesuaikan dengan kebutuhan. Kebetulan tradisi Iyengar memang terkenal dengan kemampuan memicu self healing yang luarbiasa. Ini bukan isapan jempol, guruji, panggilan kehormatan bagi BKS Iyengar, sudah puluhan tahun memiliki trek rekor mengagumkan dalam menjalankan kelas remedial, ribuan orang datang pertahun ke kelasnya untuk melakuan latihan yang didisain khusus agar bisa mengatasi berbagai macam masalah kesehatan mereka. Dari mulai problem kesehatan ecek-ecek seperti cedera lutut sampai penyakit yang belum ada obatnya seperti AIDS.

 

Standing Trestler

Kerennya lagi, guruji tidak seperti ahli kesehatan alternatif kebanyakan yang bingung waktu mau menjelaskan secara ilmiah apa yang dia lakukan dalam mengatasi sebuah masalah kesehatan, yang berhasil sekalipun. Beliau mampu menjabarkan dengan jelas, detil serta ilmiah sesuai dengan kapasitas orang yang mengajaknya bicara. Ia mampu membuat orang awam mengangguk faham atau seorang ahli kesehatan senior sekalipun (asal mau berpikiran terbuka) memiliki perspektif baru dalam melihat masalah kesehatan.

Ah, gak usah beliau deh, kejauhan! Saya aja yang ilmunya gak ada seujung kukunya dia, punya pengalaman seabreg dalam berurusan dengan masalah kesehatan. Juga dari yang ecekecek kayak saraf kejepit, sampe yang kelas berat seperti kanker. Ini contohnya

—> https://www.facebook.com/notes/erikar-lebang/healing-yoga-is-about-being-persistence-and-do-it-right/123491055973

Kalau cuma kasus kayak HNP dan Piriformis Syndrome model Nabilah gini, buset sudah kayak kasus “dua ribu dapet tiga”, pasaran!

Tapi kendati ampuh, konsep healing dalam tradisi Iyengar punya kompensasi yang gak ringan. “Latihan keras dan menyakitkan, serta tidak menuntut hasil instan” tutur guruji. Tapi ia segera menambahkan kalimat lanjutan, “Saya belum pernah gagal memperbaiki kualitas kesehatan seseorang selama orang tersebut memiliki determinasi menjalani latihan”. Perhatikan beliau memilih kata memperbaiki kesehatan, ketimbang menyembuhkan.

Intinya sih tetap, determinasi!

 

How To?

Latihan dalam tradisi Iyengar, umumnya amat presisi, saking presisinya, jarang instrukturnya “bergerak mencontohkan dengan seisi kelas mengikuti” seperti umumnya kelas yoga kebanyakan. Tipikal kelas Iyengar adalah, sang pengajar berdiri di depan kelas, meneriakkan instruksi dengan suara lantang, dan mata tajam seperti elang, bergerak mengkoreksi mereka yang salah mengkonversikan instruksinya dalam gerakan. Konsep ini kadang membuat tertekan banyak orang. Tertekan? Karena umumnya disampaikan bukan dengan nada lemah-lembut, tapi keras dan gak jarang, kasar. Intimidatif deh! Udah begitu, gerakannya juga jarang yang dibuat fun, mungkin cenderung membosankan bagi yang pertama nyoba. Semua melakukan asana mendasar yang dilakukan berulang dari mulai dasar hingga advance. Begitu terus, mau Anda junior, intermediate atau senior sekalipun! Semua pukul rata, sama!

Intimidatif, membosankan?

Jangan lupa, menyakitkan! Bagi yang punya masalah anatomi atau fisiologi, pose yang dilakukan detil itu umumnya menyakitkan! Nah lengkap gak tuh? Intimidatif, membosankan serta menyakitkan. Jadi benar kata guruji, kalau gak punya determinasi, jangan harap Iyengar bisa menyembuhkan masalah kesehatan Anda. Kok mau sih? Nah, itu dia, jangankan guruji yang kebanjiran ribuan pelaku yoga dengan berbagai keperluan setiap tahunnya. Lah saya yang cemen gini aja, udah rutin mengurus orang penyakitan di studio saya. Sampai sering ada yang meledek, “studio lo isinya mayoritas orang penyakitan ye?”

Ikuti illustrasi dibawah ini:

 Utkatasana

Nabilah saya minta untuk melakukan pose sederhana ini yang namanya Utkatasana. Perhatikan contoh yang diperlihatkan para murid di RIMYI Pune ini, tempat tradisi Iyengar berasal. Sebuah pose sederhana yang menggambarkan kekuatan serta kekokohan. Utkata terjemahan bebasnya adalah Fierce, kekuatan yang menakutkan, mengintimidasi.

Bandingkan apa yang dilakukan Nabilah disini, saat ia berusaha menirukan pose diatas dengan metode yang ‘diringankan’: kaki sedikit meregang selebar bahu serta pemakaian balok untuk memberi sensasi prepriosepsis diantara telapak kaki.

01

Perhatikan betapa berbeda cara Nabilah menempatkan sepasang kakinya dibanding para murid di RIMYI diatas. Rapuh dan tidak seimbang titik beratnya. Padahal kalau melihat struktur tubuhnya, terlihat ia lebih kuat dan atletis dibanding mereka. Namun kenapa kakinya seakan tidak mampu menapak dengan benar?

02

Ini disebabkan oleh pola berlatihnya sebagai penari telah membuat sepasang kakinya kehilangan banyak fungsi fundamental. Akibatnya saat melakukan asana yoga yang sebenarnya merepresentasi fungsi menyeluruh anatomi tubuh, ia mengalami kesulitan. Kekuatan otot dan struktur tulangnya tidak saling menunjang, akhirnya pikirannya memerintahkan kaki untuk melakukan hal seperti diatas untuk bisa melakukan pose yang diperintahkan. Disini bisa dipastikan bahwa Nabilah punya masalah dalam mempergunakan otot hamstring (paha belakang), quadriceps (paha depan), gastrocnemius (betis), fibulatibialis (tungkai kaki bawah). Kaki yang strukturnya lemah seperti demikian, tidak pelak lagi adalah kaki yang sangat buruk dalam menunjang tubuh, tidak heran bila ia banyak memiliki masalah terkait anatomi.

 

03

Ini adalah bentuk latihan yang dirancang untuk mengantisipasi kelemahannya tadi. Ia harus menjepit sepasang balok dengan kedua kakinya sekuat mungkin sambil pada saat bersamaan ia harus menempatkan dirinya seperti sedang duduk diatas kursi. Disini kakinya harus bekerja keras, dan semua otot yang tadinya tidak berfungsi baik, bagaikan ‘terbangunkan’ di sini.

 

04

Lihat sekarang, ia bisa melakukan pose sebelumnya dengan lebih baik. Walau ia tidak bisa merendahkan tubuhnya seperti sebelum namun fungsi kakinya telah menjadi lebih baik, mampu menjejak lebih sempurna. Paling tidak otaknya telah mampu mengontrol sepasang kakinya agar bekerja sesuai fungsi.

 

05

Tidak mudah mengkonversikan perintah otak pada kaki dengan kebiasaan buruk yang sudah ‘terpatri’ menahun. Untuk itu BKS Iyengar memperkenalkan pemakaian banyak alat bantu, agar tubuh terfasilitasi dan terbantu, sehingga fungsinya bisa berangsur-angsur menjadi lebih baik. Bahkan dalam beberapa kasus, bila pemilik tubuh adalah orang yang memiliki intelegensia yang baik serta tekat yang kuat, peningkatan fungsi tubuh tersebut bisa berlangsung secara cepat. Disini dipergunakan ‘plank board’, semacam papan yang didisain sedemikian rupa oleh guruji dengan beragam fungsi, salah satunya ‘meratakan’ tekanan berat tubuh pada telapak kaki. Tehnik yang amat membantu dalam kasus Nabilah ini.

 

06

 

07

Lihat apa yang terjadi saat semua alat bantu dilepas dan Nabilah diminta melakukan pose Utkatasana secara konvensional. Hampir mendekati sempurna semua fungsi tubuhnya! Ingat ini terjadi hanya dalam satu kali masa latihan! Luarbiasa bukan kemampuan yoga dalam memperbaiki fungsi anatomi? Limpahan berkah dari Tuhan semoga diberikan untuk guruji yang dengan kecerdasannya mampu menemukan banyak solusi atas masalah kesehatan yang kita temui sehari-hari.

 

Latihan Rutin Kuncinya

Bila semua ini dilakukan dengan baik, perbaikan tubuh bisa berlangsung lancar. Nabilah mengakui, semenjak rutin berlatih yoga dengan metode Iyengar, ia tidak pernah lagi mengalami problem back pain yang dulu sangat menghantuinya. Walaupun setiap waktu latihan seringkali dilaluinya dengan berat dan menyakitkan, tapi ia telah mengetahui apa yang dilakukannya selama ini bisa merusak kualitas kesehatannya di masa depan. Untuk itu ia tahu, bahwa berlatih rutin adalah kata kunci dan jalan keluar terbaik.

Nabilah

Guruji pun membuktikan itu sendiri. Ia berlatih keras setiap hari selama 80 tahun lebih. Saat tulisan ini dibuat, usianya telah menginjak 95 tahun, namun ia masih dapat berdiri tegak dan memiliki kemampuan fisik serta berpikir yang sangat mengagumkan, tidak hanya untuk orang seusianya, tapi juga orang yang jauh lebih muda. Perhatikan foto berikut ini

Standing Trikonasana

Betapa kokoh dan sempurna kaki beliau saat berlatih pose trikonasana, dan upaya keras bertahun-tahun tersebut membentuk karakter tubuh keseharian yang nyaris sempurna. Perhatikan pose sebelahnya bagaimana ia mengkonversi hasil latihan dalam wujud sepasang kaki yang sangat kokoh menunjang tubuh 90-an tahunnya. Kaki sedemikian kuat membuat beliau bisa dipastikan terbebas dari banyak masalah anatomis dan fisiologis yang umum menghantui manusia, di usia berapapun. Kata kuncinya, sekali lagi, memang hanya sepasang..

Latihan rutin!

 

 

 

18 responses on “Latihan Rutin Yang Mengubah Kebiasaan

  1. Tika says:

    Artikel ini mengusik saya. Anak perempuan saya (6 th) sudah setahun latihan ballet dgn intensitas 2x seminggu selama 1 jam tiap sesi. Dia meminta sendiri dan sejauh ini sangat menyukainya. Setelah baca artikel ini saya jadi kuatir kalau dia terus latihan, nanti besarnya akankah mengalami masalah postur (dan berakibat back pain)? Adakah cara untuk mencegah masalah postur baginya di kemudian hari? Thanks.

    • erykaradmin says:

      Ya ini kan terserah si anak, tante. Kali aja dia cinta ballet? Atau punya potensi jadi balerina terkenal? Sayang aja kalau disetop sontak, sapa tahu bisa bawa harum nama bangsa *ce’ile*

  2. lisa triana says:

    saya sangat tertarik untuk mencoba yoga tersebut, adakah saran atau solusi untuk saya berhubung saya tinggal di pulau bangka yang notabene belum ada tempat2 yoga apalagi yang benar2 mempraktekkan iyengar.
    terimakasih sebelumnya..

  3. dyah says:

    mas boleh minta rate buat kelas yoga nya dong, Yoga Pink Studio ada websitenya ga ya?

    Thank You

  4. cathrin says:

    Dapatkah yoga membantu mengurangi dampak penyakit pelupa? saya benar-benar sangat pelupa apalagi untuk mengingat dan menghapal wajah orang. saya juga kesulitan utk menjaga keseimbangan terutama saat bersepeda sehingga sering terjatuh. dapatkah saya belajar yoga dengan mengandalkan buku yg bapak tulis?
    Tq,,,

    • Erykar says:

      Dementia terkait dengan kualitas otak

      Bisa dari pola makan, gaya hidup juga secara genetika. Tapi selain pola makan, yang lain biasanya porsinya sangat kecil. Yoga membantu mengalirkan darah dan oksigen pada seluruh tubuh secara merata. Terutama pose terbalik bisa jadi berguna untuk kesehatan otak. Tapi tanpa pola hidup, terutama pola makan yang tepat, perbaikan biasanya berjalan lebih lambat

  5. i says:

    Mas, saya dah beli buku #yoga sehari hari dan cd nya, berhubung saya di medan, apakah latihan2 di cd tersebut bisa saya praktekkan tanpa guru yoga?, terus utk backpain(bungkuk) pose apa yg hrs terus rutin dilakukan? Apakah seblum yoga ada pose pemanasan dulu? Terima kasih mas

    • Erykar says:

      Memang itu tujuan dari buku tersebut

      Bagi mereka yang jauh dari studio yoga harian untuk berlatih. Lakukan cermat sesuai petunjuk buku tersebut, Insya Allah aman

  6. bunga says:

    Pundak kanan serta punggu bagian kanan atas (maish sekitaran bahu kanan) saya, sering sakit. Bahkan setiap hari. Kadang sampai ke kepala sakitnya. Gerakan Yoga spt apa yg cocok tuk saya?

    • Erykar says:

      Gak ada yang parsial

      Percuma, karena tidak akan memperbaiki postur harian. Berlatihlah secara rutin dan rajin 3-4 kali dalam seminggu. Perbanyak latihan backbend. Lakukan dengan benar

    • Erykar says:

      Lebih disarankan untuk latihan secara lengkap dan rutin

      Bukan parsial terkait rasa sakit

  7. zadif says:

    Mas, saya sudah mencoba untuk menggunakan pola FC dalam keseharian saya, tapi saya benar benar merasakan badan saya jadi kliyengan, keringat dingin keluar, mau pingsan rasanya, apa yang salah ya dengan pola saya?

    • Erykar says:

      Berani taruhan juklaknya pasti masih salah

      #Foodcombining itu pola makan sehat, bukan pola makan ngurang-ngurangin porsi atau supaya badan langsing atau nambah berat badan. Lakukan sesuai juklak, gak mungkin tubuh akan mengalami masalah.

  8. Nenon says:

    Mas, Tante saya hipertensi setiap kali setelah yoga, pusing mual dan muntah-muntah, menurut instrukturnya sih tidak ada yang salah dengan gerakannya, apakah ada yoga khusus untuk hipertensi?

    • Erykar says:

      Instrukturnya gak paham, bagaimana caranya menghadapi orang hipertensi dengan yoga. Tapi ada kemungkinan tante kamu gak cerita, ya bisa jadi dia juga gak tau. Penderita hipertensi memang harus ditangani oleh mereka yang paham secara anatomi-fisiologis

      Baru yoganya bisa menyembuhkan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This template supports the sidebar's widgets. Add one or use Full Width layout.