Komitmen Hidup Sehat Untuk Atas Penyakit

26 June 2018
Comments: 0
26 June 2018, Comments: 0

“Gue udah sakit gini masih dilarang menikmati hidup? Pelan-pelan dong berubahnya, masih sukur gue nanya ke elu kan?” Masih segar dalam ingatan saya kalimat protes salah satu teman yang terkena tekanan darah tinggi di level parah. Waktu itu dia sedang meminta advis tentang makan sehat, dan apa yang harus dilakukan untuk mendatangkan kesembuhan. Dan seperti yang terbaca, dia bersungut-sungut saat tahu apa yang harus dilakukan.

“Pindah dari gorengan ke rebusan aja udah bagus. Roti ke buah aja udah bagus. Gak perlu sempurna..”. Contoh protes lain yang saya terima, kali ini dari seorang penderita kanker, yang menerima saran makan sehat dari kerabatnya. Apakah makan sehat begitu beratnya untuk dijalani? Apakah penyakit bisa disembuhkan dengan mengubah apa yang selama ini dimakan? Di sisi ini kita harus melihat masalah ini dengan penglihatan yang lebih jernih

 

Tubuh Sakit Tubuh Yang Dirusak

Untuk bisa menerapkan hidup sehat kita harus sepakat di awal menetapkan satu pemikiran mendasar, Kondisi tubuh mengikuti pada apa yang kita lakukan terhadapnya Bila Anda sehat, berarti Anda memperlakukan tubuh dengan tepat, dan bila Anda sakit, Anda telah memperlakukan tubuh dengan salah. Apa yang identik dengan apa yang kita lakukan terhadap tubuh? Ingat saja pada dua faktor yang paling fundamental menunjang kehidupan, bernafas serta makan dan minum. Dalam tulisan ini kita bisa mengesampingkan sesaat konsep bernafas dan lebih membahas tentang apa yang dimakan dan diminum. Karena mayoritas manusia memiliki konsep bernafas yang lebih seragam, namun memiliki pola makan yang sangat beragam. Keragaman itu yang bisa kita elaborasi dalam menentukan kondisi sehat atau sakitnya seseorang.

Kita sudah sering membahas, apa yang terjadi saat akumulasi makanan buruk merusak kesehatan. Bagaimana sel-sel tubuh dirusak, sistem tubuh yang ikut rusak dan penyakit yang hadir mengikuti. Kebanyakan orang baru sadar kalau ada yang salah dengan tubuhnya, saat mereka divonis penyakit berat, atau saat ada malfungsi dalam tubuh yang mengganggu aktivitas sehari-harinya. Mereka sering tidak menyadari bahwa kerusakan tersebut terjadi secara akumulatif jauh sebelum penyakit tertentu terjadi atau setidaknya divoniskan pada mereka. Kerusakan sel yang berubah mejadi parah seperti penggetasan pembuluh darah penyebab penumpukan plak yang identik dengan darah tinggi semisal, itu bukan sesuatu yang terjadi dalam hitungan hari, minggu, bulan ataupun sekedar 1-2 tahun. Bisa berlangsung belasan hingga puluhan tahun. Demikian juga dengan sel yang berubah sifat menjadi sel kanker lalu punya kemampuan menggandakan diri berlipat-lipat hingga mematikan karena mengambil alih fungsi tubuh seseorang penderita. Semua itu berlangsung karena kesalahan gaya hidup merusak yang berlangsung dalam jangka waktu sangat lama.

 

Kompensasi Yang Tak Sanggup Mencegah Kerusakan

Alih-alih menyadari, banyak di antara penderita sakit yang sulit menerima kenyataan. Bahwa masalah utama ada dalam kesalahan mereka menjalani hidup, merusak tubuh. Mereka lebih suka fokus mencari jalan sembuh dari penyakitnya. Lebih parahnya lagi secara konvensional dunia kesehatan juga mengacu pada hal sama, fokus pada pengobatan dan pengenyahan penyakit ketimbang mengkoreksi kesalahan atau apa yang merusak tubuh. Penyebab penyakit lebih sering dialamatkan pada sisi genetik, atau unknown factors, sesuatu yang tidak diketahui. Hal yang sebenarnya tidak banyak membantu kesembuhan. Polemik genetik semisal, lewat beragam penelitian terkini diketahui menyumbang persentase yang sangat kecil untuk urusan menyebabkan penyakit.

Masalah ini membesar saat fokus pada penyembuhan penyakit berat seperti ini, ditekankan hanya lewat upaya pengobatan. Entah dalam bentuk pemberian obat-obatan atau upaya medis invasif seperti operasi, kemoterapi dan lain sebagainya. Persentase penyembuhan dalam konteks pulih seperti sediakala menjadi rendah, atau bahkan kadang menjadi tindakan untung-untungan. Dan sedihnya lagi, semua itu memakan biaya yang tidak murah. Sudah sembuhnya untung-untungan secara finansial, banyak penderita yang kemudian terpuruk secara ekonomi.

Karena tidak menyadari kesalahan diri sendiri yang merusak tubuh tersebut. Semua kebiasaan buruk yang dilakukan selama ini, tetap saja diteruskan tanpa ada koreksi. Bisa jadi seseorang menjalani kemoterapi, tapi sepulang terapi mampir di restoran lalu menyantap semangkuk mie ayam dan minum segelas kopi, semisal. Kalaupun ada perbaikan, sifatnya minor. Bahkan dalam beberapa kasus, seperti dipaparkan di atas, kesadaran yang sudah mulai muncul tetap saja berbalut tindakan kompensatif. Sadar ada yang salah, tapi niat untuk memperbaiki, hanya muncul sedikit. Maunya dijalani secara gradual. Tidak serta merta menghapus kesalahan.

Realitanya, tubuh yang sudah rusak, karena dirusak, tidak bekerja sesuai kemauan tersebut. Selama faktor perusaknya masih ada, penyakit akan terus berkembang dan menggurita untuk menguasai tubuh. Hidup sehat tidak akan berfungsi banyak kalau dia hanya muncul sebagai faktor pencegah yang bersifat kompensatif. Berdasar cerita di atas, teman saya yang bersungut-sungut akibat advis gaya hidup terkait penyakit darah tingginya, kini sudah naik kelas dan menderita stroke lumayan parah. Kerusakan yang diantisipasi dengan hidup sehat sekedar kompensasi, tidaklah mencukupi.

 

Komitmen Bukan Kompensasi
Saat bicara pengubahan gaya hidup menjadi sehat untuk sembuh dari penyakit, mau tidak mau kita harus berpegang pada aturan dasar yang sangat sederhana, Hentikan faktor penyebab dan lanjutkan faktor penunjang. Dari sisi makanan serta minuman otomatis diterjemahkan menjadi, Berhenti mengkonsumsi apa yang merusak tubuh dan konsisten mengasup apa yang diperlukan oleh tubuh. Aturan dasar sederhana yang sulit bagi banyak orang menerapkannya. Sulit, karena kesadaran tidak ada. Sulit karena kemauan memperbaiki tidak dipunya. Sulit karena penyakit dianggap sebagai bukan kesalahan diri sendiri.

Hidup sehat menyangkut komitmen. Apalagi saat kesadaran hidup sehat itu hadir sedikit terlambat, dengan mengidap penyakit berat terlebih dahulu, komitmen yang dimiliki harus berlipat-lipat lebih kuat. Bukan sekedar disiplin menjalani, tapi juga berkemauan kuat untuk menolak godaan yang ada. Bukan sekedar dinyatakan sembuh, tapi kemauan untuk menjalani semua aspek pola hidup sehat seumur hidup. Komitmen!

Tapi mereka yang sudah melakukan dan sukses menerima hasil saat menjalani, rata-rata menikmati kehidupan berkualitas yang jauh lebih tinggi ketimbang mereka yang cuma melulu mengandalkan pengobatan konvensional dalam menghadapi masalah kesehatan. Semisal, sering sekali saya berinteraksi dengan penyintas kanker lewat jalur konvensional, banyak diantara mereka yang kehilangan kualitas hidup secara siginifikan, tampil lemah, kulit kusam, jalan dipapah, tampilan fisik yang awut-awutan, bahkan pernah ada yang mengutuki status penyintasnya karena justru membuat fisiknya jadi sangat tidak sehat, jauh dari bisa menikmati hidup. Sementara pelaku hidup sehat yang menjadi penyintas kanker, hidup dengan penuh kualitas. Tetap menjalani aktivitasnya secara normal, tidak mengalami gangguan fisik berarti dan secara fisikal, mental, spiritual kondisinya terus terjaga. Semua itu hadir karena mereka paham menjalani hidup sehat harus penuh dengan disiplin. Dan disiplin itu hadir lahir lewat sebuah komitmen. Bukan kompensasi.

Semoga berguna

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *