Kenapa Pake Pink?

7 December 2013
Comments: 3
Category: On Life
7 December 2013, Comments: 3

Ini pertanyaan yang paling sering muncul, terkait penampilan saya dengan atribut berwarna pink, merah jambu, jambon, fusia, whatever the name lah. Kenapa? Sebenarnya ini bukan terkait masalah selera, cuma lebih ke sisi strategi semata

 

Positioning

Kalau ingat sekitar era 70-80’an pernah sangat terkenal strategi pemasaran bertajuk positioning dan bagi yang faham dengan konsep ini, pasti familiar dengan ide mendasar kenapa saya mempergunakan warna pink sebagai atribut. Strategi rekaan tokoh pemasaran legendaris, Jack Trout dan Al Ries ini berbunyi “an organized system for finding a window in the mind” rumit? Ok sederhanakan seperti ini, “apapun yang kita lakukan mengarahkan kita pada satu titik”

In my case, semua yang dilakukan, membuat orang teringat pada satu hal. Dalam kasus ini saya menempatkan diri saya sendiri sebagai target dari ingatan semua orang.  Nah, memakai atribut pink kaitannya ya kesitu. Membuat orang teringat akan saya! Caranya ada banyak, mulai dari pengetahuan kesehatan, gaya bicara saya yang cenderung straight forward, minim basa-basi, bahasa tubuh, cara melempar humor apapun. Pink hanyalah salah satu cara.

Cuma memang itu salah satu yang paling terkenal.

Kok bisa pink sih?  Saya dibesarkan di era 80-an. Di akhir era tersebut, usia saya belasan. Konon pembentuk karakter yang sangat kuat hadir disana. Nah, di jaman itu ada tokoh tenis muda (saat itu) yang sangat terkenal, Andre Agassi. Dia sosok yang sangat mewakili dunia tenis modern, bahkan hingga saat ini. Jagoan, tampan, pandai berdiplomasi, piawai menarik perhatian khalayak, segalanya deh pokoknya. Satu hal yang menarik dari beliau, selalu memakai atribut dengan warna yang membuat mata sakit! Pink tentu salah satunya!

andre-agassi-1991-George-D.-LeppCORBIS

Yang menarik dari Agassi, ia memang murni petenis jagoan! Kelak dia akan dikenal sebagai petenis legenda dengan segudang prestasi yang membuatnya dikenang sebagai salah satu petenis terbaik yang pernah dilahirkan di dunia ini. Jadi di usia muda, ia bukan cuma menarik banyak sensasi, ia juga orang yang punya kapasitas secara penuh untuk membuatnya menjadi salah satu petenis garda depan.

Buat apa banyak sensasi kalau cuma kenceng di depan, tapi gak ada apa-apanya di kemudian hari. Agassi semisal. Dia menolak tampil di turnamen tennis terbaik di dunia, Wimbledon, cuma karena masalah sepele. “Saya gak suka harus tampil dengan kostum putih-putih”. Bodoh? Mungkin saja, karena semua petenis di dunia memimpikan bermain di arena tersebut. Tapi Agassi punya prinsip, selagi muda, selagi punya jiwa memberontak, dia tidak mau mengalah begitu saja. “Nanti kalau usia saya sudah lebih mapan, saya akan tampil disana”. Dan ia memang melakukan itu, malah Wimbledon menjadi arena dimana Agassi mendapatkan gelar grandslamnya yang pertama.

Dari sini, jujur saya banyak mengadaptasi. Masalah shocking color, itu cuma strategi untuk membawa kita mudah dikenali oleh orang banyak. Tapi percuma sekedar dikenali, kalau gak ada isi. Dua faktor ini harus saya punya!

 

Konsisten

Awalnya memang saya mulai banyak mempergunakan warna shocking untuk banyak atribut, jujur mengadaptasi konsep berpikir Agassi dan strategi pemasaran Trout-Ries, tapi pelan-pelan saya mulai fokus ke satu warna, pink. Karena warna rame, kayaknya kurang pas kalau disambungkan ke kulit saya yang warnanya cenderung gelap. Agak mirip orang buta fashion kayaknya, bila dipaksa.

Kalau dalam keseharian saya sendiri jarang memilih warna pink, umumnya yang biasa-biasa aja. Dan kebetulan gak punya juga warna favorit. Saya tampil normal, gak pake batasan warna apapun. Terutama karena dasarnya saya bukan orang yang senang menarik perhatian di lingkungan baru. Saya sih sering mengaku pemalu, walau banyakan yang gak percaya kalau yang satu ini. Lihat saja foto ini. Hampir di semua dimensi kehidupan normal saya, pemakaian warna pink bisa dibilang sangat jarang dilakukan.

My Figure

Hanya saja seiring perkembangan waktu dan popularitas yang perlahan-lahan merambat naik. Frekuensi penampilan saya di publik meningkat. Dan sebagai seorang self employee plus entrepreneur, suka gak suka, nilai saya ditentukan oleh seberapa penting sosok saya bagi masyarakat. Semakin saya terpakai, semakin jelas mau diapakan hidup saya hari ini dan masa depan nanti. Konsep ini mau gak mau membutuhkan konsep berpikir positioning a la Ries-Trout tadi harus dikedepankan lagi. Bagaimana orang akan ‘memakai’ saya, kalau ‘diingat’ saja tidak. Saya harus punya posisi yang jelas. Ilmunya harus ditingkatkan lagi, bukan cuma sekedar posisi, tapi juga posisi itu berbeda dari yang lain.

Jack Trout menulis buku yang mengembangkan teori positioning ke titik lebih jauh. Ia menggugah pemikiran saya saat menyodorkan pemikiran dalam bukunya “Differentiate Or Die”. Kata differentiate atau pembeda, ditekankan oleh Trout, harus dimiliki satu produk bila ia ingin dikenal serta punya peluang sukses di masyarakat. Sekedar positioning itu gak cukup lagi, karena produk sejenis makin mewabah seiring perkembangan persaingan sesuai perjalanan waktu dan peningkatan teknologi. Salah satu urgensi yang ditekankan Trout adalah pasar harus segera dapat mengenali satu produk diantara produk sejenis lain. Dengan kata lain ia menekankan pada sisi “kecepatan”.

Apa yang lebih cepat dikenali oleh orang lain melebihi pengenalan visual?

Itulah sebabnya saya semakin mantap menjadikan pemakaian atribut pink sebagai salah satu faktor differensiator, agar mudah dikenali serta diingat oleh orang banyak. Terutama saat saya sudah memiliki ribuan follower di salah satu akun sosial media saya, Twitter, walau belum berjumlah jutaan, saya punya semacam kedekatan batin yang cukup rapat dan intens dengan para follower saya ini. Mereka ternyata merasa kehilangan saat saya tampil di publik dengan minus atribut berwarna pink. Saat follower saya berubah  membesar menjadi komunitas, seiring dengan naiknya frekuensi pemunculan di media publik, tuntutan akan pemakaian warna pink tersebut makin menjadi-jadi. So, inilah saya dalam penampilan publik tersebut

Public 00

Tampilan saya untuk di media publik seperti televisi pun konsisten mempergunakan warna pink juga. Lagipula pernah saya alpa mempergunakan warna tersebut, gak sengaja, yang protes langsung banyak banget! Dari mulai sahabat, rekan, ibu teman saya sampai ke penghuni komunitas. Ya udah, semenjak itu gak pernah lagi saya gak pake pink saat tampil di ruang publik

TV

Nah, semoga tulisan singkat ini bisa memperjelas kenapa saya diidentikkan dengan warna pink. Dan jangan protes kalau bertemu saya sehari-hari tanpa ada ornamen pink apapun dalam atribut saya

3 responses on “Kenapa Pake Pink?

  1. lalaterbang says:

    jadi Hello Kitty itu karakter favorit mas erik sebenarnya apa bukaaan?! #penting

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *