JANGAN MENJALANI POLA MAKAN SEHAT SEPERTI TERAPI

26 July 2018
Comments: 0
26 July 2018, Comments: 0

Belakangan ini ada beberapa fenomena yang agak rancu dengan konsep pola makan sehat yang jelas dan logis aturannya, semisal Foodcombining (FC). Normal. Ekskalasi FC sebagai salah satupola makan sehat sejati yang bisa membuat hidup Anda tidak hanya lebih sehat, relatif mudah dilakukan. Dan secara lebih substansial, hidup lebih berkualitas!

Namanya mulai terkenal, mulai muncul beberapa elemen-elemen yang ikutan menyusup: dari mulai sekedar rancu, sampai sengaja disisipkan untuk kepentingan tertentu. Ada yang memang menyusup karena ketidak tahuan, ada juga yang sengaja disisipkan supaya lebih terkenal, laku dan lain sebagainya. Disini peran mereka yang sudah paham sangat diperlukan.

Yang kini tren, adalah logika mempergunakan FC sebagai obat untuk penyakit. Dari sana bisa ditemui beragam versi penyusupan yang muncul: mulai dari jus daun pepaya, rebusan daun singkong, bubuk akar benalu hingga ekstrak kulit manggis. Untuk meluruskan hal itu mari kita luruskan konsep pola makan sehat secara mendasar. POLA MAKAN SEHAT BUKAN BERFUNGSI UNTUK MENGOBATI PENYAKIT

Ya, kita sering mendengar testimoni anu saya sembuh semenjak FC, saya gak pernah anu lagi semenjak FC dan masih banyak hal serupa lainnya. Yang membuat rancu disini adalah, bukan FC penyebab penyakitnya sembuh, bukan FC penyebab gangguannya hilang, bukan pula FC yang membuat hidupnya bebas dari penyakit, tapi semua itu dilakukan oleh tubuh yang sehat! Di sini peran FC menjadi lebih nyata, karena tujuannya adalah membuat tubuh menjadi sehat. Ini perkakas utamanya yang tidak boleh dan tidak bisa dilupakan, serta sama sekali berbeda dengan pola pikir: FC itu terapi atau FC itu pola makan mengobati.

 

MENGOBATI ATAU MENCEGAH DAN MERAWAT?

Kekeliruan ini sebenarnya mendasar sekali sesuai dengan melencengnya pendidikan kesehatan konvensional di masyarakat. Ahli kesehatan, industri farmasi, dan alat kesehatan selalu diarahkan (atau mengarahkan) pasiennya untuk menyembuhkan mereka dari penyakit. Tindakan baru diambil saat sakit ada. Diobati, dioperasi, dikemoterapi dan lain sebagainya, Logikanya waktu penyakit hilang ya sembuh, kalau tidak hilang, ya menjadi lebih buruk, dengan kemungkinan terjelek adalah mati! Paham ini jelas tidak sejalan pola pemikiran FC yang orientasinya adalah sehat.

Secara murni sehat itu harus berlangsung secara konsisten tanpa harus ada penyakit. Anda sehat karena memang tubuhnya dijaga agar sehat, bukan sekedar karena beruntung tidak ada penyakit. Ini yang tidak ada dalam pendidikan kesehatan konvensional. Buat yang paham dinamika dunia kesehatan tentu mengenal konsep dikotomi: kuratif (pengobatan) dan preventif (pencegahan). Dari dua pemisahan ini, sayangnya masyarakat lebih akrab dengan konsep kuratif, pengobatan itu ada karena adanya penyakit Karena memang ini yang mendominasi dunia kesehatan. Dan disukai karena sifatnya yang instan dan relatif minim upaya perawatan.

Hal ini sangat merugikan saat kita berusaha mengaplikasikan konsep hidup sehat yang basis dasarnya adalah preventif. Salah satunya FC. Kenapa berpikir mengobati itu merugikan? Kenapa tidak boleh berkonsep terapi? Berikut beberapa alasan yang signifikan:

  1. KONSISTEN

Berpikir secara kuratif untuk pola makan yang basisnya preventif akan membuat terganggunya dasar pola hidup sehat dilakukan seumur hidup. Katakanlah Anda sembuh dari satu penyakit setelah melakukan FC. Apa yang pertama muncul di kepala Anda? Penyakitnya sudah gak ada, mari kita kembali ke pola makan yang lama. Sejatinya mirip dengan orang minum obat untuk mengatasi rasa pusingnya, saat sudah hilang, obat itu tidak perlu diminum terus.

Berita buruknya, saat Anda kembali ke pola makan lama, dan kemudian penyakit itu muncul kembali, bisa jadi balik melakukan FC tidak mampu menyelamatkan Anda lagi.

 

  1. KELEBIHAN UNSUR

Pola makan kuratif yang merasuki FC sering membuat juklak menjadi terganggu karena adanya keinginan untuk mengkonsumsi sesuatu lebih sering, dengan anggapan kandungan yang ada dalam sesuatu itu bisa menyembuhkan penyakit. Akhirnya, setiap hari, setiap saat, sesuatu itu dikonsumsi terus menerus. Hasilnya? Sembuh belum tentu, sementara sesuatu itu sudah menumpuk di dalam tubuh. Jangan lupa, sama dengan obat konvensional, tumpukan apapun dalam tubuh akan merepotkan tugas beberapa organ vital dalam tubuh untuk mengatasinya. Liver dan ginjal terutama.

Orang yang terobsesi pada fungsi antioksidan dari betakaroten lalu mengkonsumsi wortel atau pepaya secara rutin dan terus menerus, sering panic karena kulitnya berubah menguning secara radikal (karotenimia). Mereka yang terobsesi fungsi melangsingkan dan laksatif dari teh hijau akan berhadapan dengan resiko kandungan pembuat sepat, pahit pada teh, tanin, merusak membran pelapis organ cerna mereka. Resikonya? Luka dan kanker organ cerna.

 

  1. SALAH KAPRAH KECOCOKAN INDIVIDU

Konsep kuratif yang mengandalkan pada obat farmasi sebenarnya memiliki sisi gelap yang jarang diceritakan oleh ahli kesehatan pada pasiennya. Sebuah obat, walau ampuh untuk mengatasi sebuah penyakit, biasanya memiliki efek samping yang bisa merusak organ atau sistem tubuh di sisi lain. Itu sebabnya kita mengenal istilah seseorang cocok atau tidak dengan obat tertentu. Ada yang alergi pada penisilin, ada yang semaput saat diberikan obat pelega sesak napas, ada yang jantungnya berdebar dan seperti nyaris tercekik saat diberikan pelancar darah, dan masih banyak contoh lain.

Fenomena negatif kuratif ini biasa dialamatkan pada pola makan sehat a la FC, dengan logika Belum tentu kamu cocok dengan pola makan itu. Kenyataannya? Tidak! Manusia di seluruh dunia punya sistem dan organ cerna yang sama dan hokum alam yang sama pula. Diperlakukan benar dia sehat, diperlakukan salah dia sakit

 

  1. HASIL INSTAN

Secanggih-canggihnya kandungan unsur pada makanan, kemampuan kerjanya tidak akan sehebat unsur yang ada pada obat. Industri farmasi jelas membutuhkan obat yang memiliki kemampuan daya pukul dahsyat dalam mengatasi sebuah penyakit. Makin hebat daya pukulnya, makin mudah dijual. Untuk memperkuat daya pukul, sebuah unsur direkayasa lewat penelitian, eksperimen serta riset yang rumit dan menelan biaya mahal.

Jangan harap mengkonsumsi bawang putih karena mendengar kandungan allicin di dalamnya sebagai antibiotic alami akan memiliki kemampuan membunuh bakteri sehebat antibiotic yang Anda beli di apotik dengan atau tanpa resep penebus. Yang ada minum berliter-liter air rebusan, atau makan bersiung-siung bawang putih memberikan hasil instan di bau badan serta mulut Anda. Bukan kesembuhan dari penyakit tertentu.

 

Demikian logika sederhana, bagi Anda yang baru masuk ke fase mempelajari pola makan sehat. Mungkin bahkan berguna juga bagi mereka yang bisa jadi sudah cukup lama menjalani. Periksa pemahaman di kepala Anda, apa ekspektasi yang diharapkan saat melakukan FC. Sudah benarkah? Sudah berkomitmenkah?

Semoga berguna

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *