Jangan Melulu Menyalahkan Stres

7 August 2018
Comments: 0
7 August 2018, Comments: 0

Dalam sebuah diskusi, seorang teman terbatuk-batuk dengan suara batuk yang terdengar sangat buruk. Saya, separuh bercanda separuh serius, mengomentari kalau batuk seperti itu biasanya menyimpan bom waktu masalah kesehatan yang serius di masa datang. Dia berkelit mengatakan bahwa batuknya disebabkan oleh stres berkepanjangan yang dialami. Seperti biasa, saya hanya bereaksi dengan mengangkat bahu, acuh. Dalam satu kesempatan lain, saya sedang bertukar cerita dengan teman lama tentang seseorang yang meninggal karena kanker yang dideritanya. Seperti biasa, saya membahas gaya hidup orang ini yang menjadi pangkal kenapa ia terkena kanker, di sisi lain teman saya berpendapat stres yang dialami adalah penyebab kankernya menjadi mematikan.

Stres! Sebuah kata yang menjadi momok dan menyeramkan. Apalagi akhir-akhir ini. Berapa banyak penyakit serta masalah kehidupan serius dialamatkan pada kata ini? Sudah menjadi hal umum bila seseorang divonis penyakit tertentu, segera orang tersebut diminta untuk tidak terlalu memikirkan stres yang dialami. Benarkah? Sepertinya kehidupan yang memiliki kecepatan dan dinamika kian menggebu akan menimbulkan efek yang meningkatkan faktor pemicu stres dalam setiap sektor kehidupan. Dari sini muncul beragam pertanyaan, akankah kita kehilangan kendali kesehatan serta hidup karena maraknya muncul pemicu stres? Bagaimana dengan orang periang yang terkena penyakit berat? Apakah dia juga korban stres? Di sisi lain tempat kita bekerja, lokasi di mana kita tinggal, yang sering diidentikkan dengan pemicu stres adalah hal yang sulit dipilih atau ditinggalkan seenaknya hanya karena beralasan pada stres. Benarkah stres adalah masalah kehidupan yang paling utama?

 

Apa Itu Stres

Di luar yang disangkakan stres sebenarnya adalah berkah yang diberikan pada sistem kerja tubuh manusia untuk menghadapi tantangan hidup. Manusia sejatinya memiliki performa lebih baik ketika mengalami stres. Apabila porsinya tepat. Lonjakan adrenalin dalam darah dapat meningkatkan perhatian dan fungsi koordinasi otak juga pada tubuh yang ada di tingkat yang optimal. Tubuh memiliki mekanisme pertahanan bernama flight or fight atau biasa disebut hyperarousal, kadang juga diistilahkan dengan acute stress response. Saat otak mendapatkan informasi tentang keadaan darurat ia akan mengaktifkan simpul kerja antara organ hypothalamus, pituitary, dan adrenaline, untuk menghasilkan hormon bernama kortisol yang segera meningkatkan detak jantung, menajamkan pikiran, melambatkan kerja sistem cerna, melimpahi darah ke bagian otot-otot utama tubuh, dan memanipulasi kerja sistem syaraf agar tubuh mendapatkan energi dan fokus melebihi kondisi normal sehari-hari. Simpul kerja antara Hipotalamus-Pituitari-Adrenalin dikenal dengan istilah HPA Axis

Tanpa stres Anda tidak akan pernah melihat pelari jarak pendek memecahkan rekor atau seseorang pemain basket berlari kencang memecah pertahanan lawan dan memasukkan bola dalam keranjang. Bisa jadi tanpa stres juga seseorang manajer tidak akan mampu memimpin timnya memberikan solusi terhadap masalah yang terjadi di sebuah perusahaan. Tanpa stres seorang panglima perang mungkin tidak akan mampu mencari strategi serta bertarung gigih untuk memenangkan sebuah perang.

Dalam level darurat, stres juga mampu menghadirkan keajaiban terkait kekuatan, kecepatan, daya tahan hingga ketajaman berpikir. Sudah sering kita mendengar orang yang mampu berlari lebih cepat dari yang dibayangkan saat ia dikejar oleh sesuatu yang mengancam jiwanya. Mengangkat barang berharga yang sebenarnya sangat berat, saat keadaan kritis. Pernah ada cerita tentang seorang penjahit tua renta yang sanggup mengangkat mesin jahit satu-satunya yang berat waktu rumahnya terbakar. Dia tanpa sadar melakukan itu, karena didorong oleh rasa ketakutantanpa mesin jahit tersebut, ia tidak bisa mencari nafkah.

 

Kelola Stres

Sejatinya kita harus bisa melihat manfaat dari stres. Bukan sebagai sesuatu yang harus dimusuhi atau ditakuti. Hanya saja stres memang normalnya terjadi dalam waktu yang tidak terlalu sering atau durasinya juga tidak lama. Bila stres berbalik menjadi sesuatu yang terlalu sering muncul dan bahkan menjadi pendengali hidup, suka tidak suka reaksi seperti HPA Axis tadi akan memberikan efek negatif. Regulasi gula darah yang tidak teratur akibat membanjirnya hormon kortisol dalam darah, rusaknya organ cerna akibat energi yang terus menerus dibuat minus adalah contoh efek merusak dari stres bila ia terjadi berkepanjangan. Itu sebabnya diperlukan pengelolaan yang baik akan stres supaya dia bisa berguna, bukannya menjadi penghalang atau malah perusak kesehatan.

Masalahnya mengendalikan stres itu bukan perkara gampang. Pikiran yang selalu bergerak liar, tekanan sosial, masalah dengan sekitar baik terhadap sesama manusia atau lingkungan dan masih banyak lagi jadi pemicu stres muncul dari dalam atau luar faktor seorang individu. Kesulitan mengendalikan ini membuat stres mudah sekali dijadikan kambing hitam untuk beragam masalah kesehatan yang muncul. Dan acap stres menjadi faktor intangible, tak terbayangkan, yang dijadikan sebab dari sebuah penyakit. Hal ini jelas menimbulkan kerugian besar. Kenapa? Karena langkah terukur untuk mengatasi penyakit tersebut menjadi hilang atau sulit dilakukan. Semisal melulu menyalahkan stres sebagai penyebab kanker akan membuat kita kehilangan arah untuk mencari cara mengobati dan mencegah yang konkrit dan jelas. Menggunakan stres sebagai kambing hitam atas munculnya darah tinggi, akan mengeliminir kehati-hatian dalam memilih konsumsi makanan dan minuman yang diketahui bisa menjadi penyebab masalah.

Sejatinya banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengendalikan serta mengelola stres. Semisal apa yang Anda makan dan minum sehari-hari, jelas bisa menjadi katalis utama untuk memanipulasi stres agar ia bisa berfungsi sesuai kebutuhan. Konsumsi protein hewani dan turunannya secara rutin akan membuat zat pengantar syaraf bernama norepinefin menjadi aktif. Jangan heran apabila Anda selalu menjadi gelisah, resah dan mudah tersinggung, karena itu adalah efek signifikan yang muncul. Minum kopi dan teh secara rutin, akan memancing kelenjar adrenalin membanjiri darah dengan kortisol, tubuh dimanipulasi untuk bertindak seperti saat Anda sedang menghadapi bahaya. Sebaliknya banyak mengkonsumsi buah-buahan dan sayuran segar juga sumber pati yang baik bagi tubuh, zat pengantar syarat yang terpicu untuk diproduksi adalah serotonin, identik dengan rasa tenang, santai dan pasif. Otomatis dari keadaan itu, Anda tidak mudah teriritasi oleh sebuah masalah yang muncul. Di sisi lain, pengaturan nafas yang biasa dilakukan oleh para pelaku yoga saat mengerjakan meditasi, juga bisa menjadi acuan bagaimana stres itu bisa dikelola. Di tradisi Iyengar yoga misalnya, dikenal teknik pernafasan bernama Ujjayi, yang bila diterjemahkan secara harfiah berarti penguasaan nafas. Secara spesifik, apa yang dilakukan pada level kedua dari teknik ini adalah langkah observasi terhadapnafas keluar yang lebih diutamakan ketimbang nafas masuk. Efek yang umum muncul adalah rasa tenang serta secara jangka panjang munculnya pikiran positif dan rasa optimis terhadap kehidupan. Bukankah ini juga bentuk lain terhadap tata kelola stres yang baik?

Mengenali stres secara proporsional dan tidak menjadikannya kambing hitam terhadap masalah kesehatan yang timbul, membuat kita memiliki keberdayaan sendiri untuk menentukan kualitas hidup yang diinginkan. Semoga berguna

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *