Bersahur Dengan Buah Segar

19 May 2018
Comments: 0
19 May 2018, Comments: 0

Beberapa tahun belakangan ini, pelaku #FoodCombining (FC), terutama selama bulan Ramadan, punya kebiasaan yang naik daun. Makan buah di pagi hari. Aktivitas yang biasanya hanya identik dengan komunitas FC ini, mendadak dilakukan oleh banyak orang selama bulan suci. Kenapa?

Mayoritas melaporkan, walau terkesan tidak lazim dan bertentangan dengan kebiasaan bahkan doktrin yang biasa disampaikan tentang makan buah di pagi hari, ada peningkatan kualitas yang signifkan dalam menjalani ritual Ramadan mereka. Sesuatu yang membuat kondisi tidak makan dan minum separuh hari menjadi ringan dan manfaatnya langsung terasa.

 

 

RASA NYAMAN HINGGA BERBUKA

Seseorang yang biasa melakukan ritual sarapan buah di pagi hari umumnya patuh dan disiplin karena merasa tubuhnya membaik secara holistik. Energetik dan terasa nyaman dalam menghadapi aktivitas fisik sehari-hari.

Seringkali orang yang saat sahur makan seperti kebiasaan normal, mengkonsumsi beragam makanan, apalagi protein hewani, mengira bahwa semua makanan yang mereka konsumsi akan membuat kemampuan menahan lapar hingga waktu berbuka menjadi maksimal. Kenyataannya lebih sering tidak begitu. Perut penuh di saat sahur justru seringkali memicu rasa sebah berkepanjangan setelahnya. Rasa kenyang yang diharapkan pun sering hilang lebih cepat dari yang diperkirakan, sebelum makan siang pun perut sudah terasa melilit. Kadangan rasa pusing hingga sakit lambung menahun ikut muncul membuat puasa menjadi ritual yang sulit dijalani.

Kendati demikian, logika makan buah ekslusif saat sahur agak sulit diterima oleh mereka yang terbiasa menjalani sarapan dini Ramadan secara konvensional, Makan banyak saja, puasanya bisa kelaparan dan lemas, bagaimana kalau makan cuma buah? Ada sebuah konsep yang menjelaskan bahwa tubuh manusia menjalani siklus harian, biasa disebut dengan istilah Ritme Sirkadian, pelaku FC yang baik sangat memahami hal ini. Secara singkat ritme ini membuat waktu sahur ada dalam siklus yang sebenarnya tidak tepat untuk mengkonsumsi makanan dalam jumlah berat dan kelewat padat. Itu sebabnya walau makanan yang masuk dianggap bisa membuat kita menahan lapar dalam waktu lama, yang terjadi justru sebaliknya, tubuh tidak mencernanya dengan baik, karena siklus tubuh sedang ada dalam fase yang tidak ideal. Makan buah segar, yang bisa dibilang tidak menyita enzim cerna dan mudah terurai serta kaya manfaat adalah makanan yang sangat tepat dikonsumsi di waktu ini.

Tapi bukankah mengkonsumi makanan ringan dan mudah urai juga membuat kita mudah merasa lapar? Di sini letak indahnya aktivitas menahan lapar dan haus selama bulan Ramadan sebagai sebuah ritual suci. Karena pelakunya diminta untuk mengucapkan niat untuk menegaskan diri. Perintah ini direkam oleh otak, dan sangat besar kemungkinan metabolisme tubuh dibuat sesuai dengan niat tersebut. Apa yang Anda makan selama sahur akan membuat kita mampu bertahan sepanjang hari, hingga menjelang buka. Besar kemungkinan juga kondisi ini yang menjelaskan kenapa seorang pelaku FC, yang biasanya merasa lapar jelang makan siang, saat Ramadan bisa menahan lapar lebih lama. Kadang bahkan tetap energetik, hingga waktu berbuka.

Buah-buahan segar memberikan perasaan sehat dan nyaman secara instan saat dikonsumsi karena limpahan kandungan enzim dan antioksidan yang disuplai pada tubuh. Buah segar juga umumnya sarat dengan ketersediaan vitamin, mineral, serat, dan cairan yang sangat vital bagi tubuh. Dengan kata lain buah segar memberikan daya hidupnya pada kita saat dikonsumsi. Limpahan daya hidup itu membuat kita menjadi merasa nyaman sepanjang hari, apalagi saat dikombinasikan dengan kekuatan niat puasa Ramadan untuk menahan lapar dan haus.

 

BAU MULUT YANG TIDAK MENGGANGGU

Hal yang paling terasa agak mengganggu selama puasa Ramadan adalah bau mulut serta nafas yang muncul. Sebenarnya normal karena rongga mulut kita ada dalam keadaan kering saat waktu minum berkurang drastis, akibatnya bau yang keluar terpengaruh. Belum lagi bila kondisi ini diperparah oleh kondisi gigi berlubang serta banyak sisa makanan menyangkut yang dibiarkan. Di sisi lain, sistem cerna yang tidak sehat juga memberikan kontribusi besar terhadap bau mulut. Apalagi bila disertai dengan penyakit spesifik seperti sindrom Sjorgen yang membuat kelainan pada produksi air liur. Secara akumulatif kondisi ini melahirkan masalah kesehatan yang biasa disebut dengan istilah Halitosis.

Tapi pelaku sahur buah melaporkan hal berbeda saat menjalani puasa Ramadan. Bau mulut yang sangat mengganggu itu bisa dikatakan berkurang jauh, kalau tidak bisa dibilangmenghilang secara drastis. Buah yang ringan dan mudah cerna membuat aktivitas sistem cerna tidak terlalu terbebani, sehingga beragam masalah yang ada di sana dan memicu masalah halitosis bisa jadi tidak muncul. Ini bisa jadi penjelas utama mengapa bau nafas yang identik muncul di sebagian orang selama bulan Ramadan menghilang.

Di sisi lain, pelaku FC ataupun mereka yang mencoba sarapan buah biasanya taat pada aturan hanya mengkonsumsi buah dan minum air putih saat sahur. Hal sama seringkali dilakukan juga saat berbuka. Aturan ini mengeliminir kebiasaan minum kopi dan teh, saat sarapan. Perlakuan demikian bisa sangat membantu bagi mereka yang bermasalah dengan bau mulut, karena dua minuman populer itu memberikan efek diuretikal, mengurangi cairan tubuh, yang sangat mungkin mempengaruhi kondisi kesegaran mulut karena cenderung ada dalam kondisi lebih kering. Pelaku sahur buah juga menghindari kebiasaan buruk lain yang umum dilakukan seperti minum susu di pagi hari. Susu hewan adalah salah satu substansi yang sebenarnya sangat sulit dicerna tubuh, dan tentunya bila itu dilakukan akan memicu masalah seperti halitosis tadi menjadi lebih buruk.

 

ENERGETIK

Salah satu testimoni paling menarik yang pernah saya dengar saat menjalani sahur dengan buah adalah orang yang biasanya selama Ramadan tidak bisa berbuka puasa di rumah. Karena walau diberikan dispensasi pulang lebih cepat, ia ada dalam kondisi lemas, sehingga harus menunggu saat berbuka untuk mendapatkan energi baru bisa pulang ke rumah. Tapi semua ini berubah saat ia mengenal ritual baru sarapan sahur hanya dengan buah segar. Rasa lemas itu hilang. Lucunya ia tetap tidak berbuka di rumah. Kenapa? Karena dengan energi dan rasa ringan yang kini dimilikinya, seusai jam kantor ia malah bisa pergi berolahraga di gym, main futsal, dan bahkan melakukan olahraga tinju.

Beban cerna yang menghilang drastis saat kita mengkonsumsi sahur dengan hanya buah segar serta air putih, membuat tubuh memiliki energi surplus yang bisa dipergunakan untuk beragam keperluan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa sistem cerna membutuhkan porsi besar dari keseluruhan energi tubuh. Kondisi yang diperparah saat Anda terbiasa makan beragam menu enak atau disangka bergizi namun sebenarnya tidak dibutuhkan tubuh serta sulit sekali dicerna. Energi yang tersita menjadi jauh lebih besar. Tidak heran saat puasa Ramadan, di mana tubuh secara otomatis dan naluriah sedang menghemat energinya sering memberikan signal rasa lemas, agar pemilik tubuh tidak terlalu boros energi dan selektif dalam beraktivitas

Konsumsi buah yang ringan, membuat akses tubuh pada ketersediaan energi yang ada menjadi lebih leluasa sehingga bisa dimanfaatkan untuk beragam aktivitas. Yang lebih seru lagi, kadang surplus energi tersebut tidak hanya dikonversikan dalam kegiatan sehari-hari, namun juga apa yang terjadi dalam tubuh. Tubuh seperti memiliki energi lebih untuk membersihkan tumpukan sampah yang mengendap di berbagai penjuru. Itu sebabnya beberapa pelaku yang melaporkan, walaupun jumlah makanan yang dikonsumsi menurun dibanding keseharian, tapi di awal-awal puasa kotoran yang dihasilkan saat buang air besar menjadi lebih banyak, berwarna lebih gelap dan berbau menyengat, sebelum kemudian kembali normal dan tubuh terasa lebih ringan.

Demikian penjelasan singkat tentang manfaat menjalani Ramadan dengan mengkonsumsi buah-buahan segar saat sahur. Sebuah langkah yang mungkin tidak lazim namun memberikan efek pencerah yang sangat signifikan. Namun namanya sebuah manfaat, tentunya baru memberikan hasil saat dia dilakukan dalam koridor aturan yang benar. Pelajari, dan lakukan sesuai tata cara atau petunjuk pelaksanaan makan buah untuk sarapan secara benar. Jangan melakukan inovasi berdasar asumsi yang tidak mendasar. Kalau ingin mendapatkan manfaat yang serupa dengan mereka yang tercerahkan

 

Semoga berguna

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *