Puasa, Food Combining Dan Kendali Diri

27 May 2018
Comments: 2
27 May 2018, Comments: 2

Ramadan adalah bulan suci yang membuat manusia mudah untuk mengendalikan diri. Sejatinya tidak melulu dalam kondisi menahan lapar serta haus, tapi menyangkut aspek lebih luas. Seperti mengutip ucapan Nurcholis Madjid, cendekiawan muslim legendaris Indonesia, “Dari segi intrinsik ajaran Islam, ibadah puasa difungsikan sebagai latihan pengendalian diri dari kejatuhan moral dan spiritual” Beliau juga mengutipkan kalimat terkenal salah satu tokoh pilar pemimpin Islam, Umar bin Khaththab ra terkait Ramadan yang sangat termasyur, “Banyak orang berpuasa tapi tidak diperoleh dari puasanya melainkan lapar dan dahaga” Aspek kendali adalah masalah klasik dan mendasar bagi problem kemanusiaan secara umum. Banyak masalah kehidupan yang hadir dikarenakan kealpaan manusia dalam menahan diri.

Pengendalian diri yang dibahas dalam tulisan ini tentu saja, seperti biasa, ditekankan spesifik pada faktor “Apa yang dimakan serta diminum?” Sejatinya puasa secara otomatis membuat pelaku pola makan sehat memiliki kendali diri yang maksimal, karena apa yang dimakan sudah membuat dirinya ada dalam kondisi tenang. Mana yang lebih potensial mengendalikan diri? Orang yang merasa tenang atau atau dengan orang yang selalu ada dalam kondisi mudah marah? Tentu saja tenang, menjadi jawaban mutlak! Masalahnya ketidak tahuan tentang apa yang harus dimakan serta diminum dalam puasa, bisa jadi membuat kemampuan kendali itu menghilang.

Pelaku pola makan sehat seperti Food Combining (FC) seharusnya dapat merasakan hal ini secara nyata. Kenapa ada kata seharusnya? Seperti biasa jawabannya, bila FC dilakukan sesuai aturan secara benar. Bukan sekedar diaku-aku.

 

 

MELAKUKAN FC DENGAN BENAR

FC mengajarkan pelakunya untuk mengkonsumsi makanan sesuai kaedah dasar tubuh manusia. Seperti sudah kita pahami, tubuh manusia membutuhkan karbohidrat untuk dapat berfungsi dengan baik. Di sisi lain, tubuh manusia juga memiliki sistem cerna yang cenderung lebih dekat ke herbivora atau pemakan tumbuh-tumbuhan. Dua hal ini berhubungan sangat erat. Karena sejatinya, tumbuh-tumbuhan dalam beragam bentuk adalah sumber dari karbohidrat. Karena itu bila manusia secara rutin mengkonsumsi beragam bentuk tumbuh-tumbuhan, sebenarnya ia sedang memenuhi kebutuhannya sesuai secara kodrat.

Salah satu doktrin yang paling mendasar dari pelaku FC adalah memisahkan konsumsi karbohidrat dan protein hewani dalam satu waktu makan. Sebenarnya ini mengisyaratkan bahwa pelaku FC, dianjurkan untuk lebih menekankan porsi karbohidrat, berbasis ragam tumbuh-tumbuhan, sebagai menu utama. Buah-buahan, sayuran, dan biji-bijian adalah manifestasi dari keragaman bentuk produk tumbuhan yang ideal dikonsumsi bagi pelaku FC.

Inilah alasan mengapa pelaku yang cenderung disiplin dan berkomitmen dalam menjalankan FC secara benar, bisa merasakan manfaat signifikan dan kemudahan dalam menjalani puasa di bulan Ramadan. Terutama terkait dengan konsep pengendalian diri.

 

 

MEMBUAT TENANG DAN NYAMAN

Secara spesifik sebenarnya ada alasan faktual mengapa pelaku FC lebih bisa mengendalikan diri dalam menjalani kehidupan, terlebih disaat menghadapi Ramadan. Diluar alasan utama pemenuhan kodrat kebutuhan.

Konsumsi karbohidrat, atau pati, yang tepat akan memicu tubuh kita memproduksi zat pengantar syarat, juga biasa disebut dengan istilah neurotransmitter, bernama Serotonin. Zat pengantar syaraf ini identik dengan sensasi rasa tenang, senang serta kenikmatan. Suatu kondisi yang berlawanan saat Anda mengkonsumsi protein hewani dimana neurotransmiter yang diproduksi adalah Norepinefrin, identik dengan rasa gelisah serta awas. Dalam kondisi normal, bisa jadi sikap awas ini baik. Tapi bila dikonsumsi berlebihan? Efeknya malah menyulitkan seseorang bersikap tenang. Mana yang lebih mudah, menjalani ibadah puasa Ramadan? Saat pelakunya ada dalam tingkat ketenangan tinggi atau saat dipenuhi rasa gelisah, resah, serta mudah marah?

Pelaku FC juga memiliki sistem cerna yang berfungsi baik. Organ bekerja lancar, pembuangan pun demikian. Tidak ada masalah secara sistem, karena semua berjalan dengan baik. Usus terisi penuh oleh bahan makanan yang kaya akan serat alami, sehingga mampu memijat makanan untuk bergerak ke tempat pembuangan dengan lancar. Tidak ada penumpukan kotoran yang merugikan kesehatan di tempat pembuangan akhir, usus besar. Sesuatu yang umum terjadi saat makanan kita miskin serat atau dipenuhi oleh substansi sulit cerna. Alasan utama kenapa pelaku FC lebih sedikit mengkonsumsi protein hewani atau makanan prosesan selama bulan Ramadan. Karena dengan pikiran tenang dan tubuh ringan, puasa Ramadan pun nyaman dilakukan.

 

 

KONSUMSI DALAM BENTUK TERBAIK

Seperti kita tahu tidak semua bentuk sumber karbohidrat ideal. Oleh sebab itu dalam pemahaman yang sama, produksi serotonin secara efektif tidak serta merta dipicu oleh sekedar mengkonsumsi apapun yang berembel-embel nama karbohidrat. Semisal apabila Anda memilih pati dalam bentuk racikan seperti pasta dan roti yang di dalamnya terdapat unsur hewani seperti telur, efek menenangkan tidak bisa maksimal dirasakan. Demikian juga bila sumber pati itu melalui banyak proses, seperti pemanasan, yang membuatnya terlimpah radikal bebas dan kehilangan bentuk mudah cernanya. Dua contoh karbohidrat demikian membuat otak tidak mendapatkan sensasi rasa tenang dan sel tubuh pun mendapatkan beban yang lebih dari seharusnya.

Buah-buahan dan sayuran, seperti paparan sebelumnya, adalah salah satu bentuk karbohidrat terbaik serta termudah dalam melimpahi tubuh dengan manfaat. Kita tinggal memastikan kedua bahan ini dikonsumsi dalam bentuk terbaiknya, santap sesegar mungkin! Unsur-unsur kaya manfaat akan mudah sekali diserap saat ia ada dalam keadaan segar. Pelaku FC akrab sekali dengan budaya konsumsi buah segar saat sarapan. Bahkan di bulan Ramadan banyak yang mengekslusifkan sahur serta berbuka dengan buah, dan melaporkan hasil yang amat positif. Pelaku FC juga identik dengan konsumsi sayur-sayuran segar di tiap waktu santap selain sarapan. Di mana di bulang Ramadan, waktu itu lebih terfokus pada makan malam pasca berbuka atau beribadah shalat.

Selain itu pelaku FC identik mengkonsumsi pati yang dipilih secara cermat. Walau istilah ini sebenarnya juga menggambarkan kata lain dari karbohidrat, namun pati sebenarnya lebih mengacu pada unsur yang mengalami proses untuk bisa disantap. Pati umumnya menjadi makanan pokok, seperti seralia, yang biasa kita kenal dengan bentuk beras, gandum atau kadang jagung, dan umbi-umbian di beberapa daerah. Walau ia memberikan rasa kenyang dan kepuasan untuk mengenyangkan, pati harus hati-hati dikonsumsi. Karena sifatnya relatif lebih kompleks untuk diurai sebelum bisa dimanfaatkan oleh tubuh. Itu sebabnya pelaku FC umum ditemui mengkonsumsi sumber pati dalam bentuk beras merah, cokelat, dan hitam. Yang kaya kegunaan dari beragam sisi, semisal tidak mudah menaikkan gula darah serta masih memiliki daya hidup. Memilih sumber karbohidrat dalam bentuk terbaik memaksimalkan kualitas Ramadan, terutama terkait pengendalian diri.

 

Semoga berguna

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2 responses on “Puasa, Food Combining Dan Kendali Diri

  1. Lucy says:

    Berarti beras merah,hitam dn coklat lebih baik daripda umbi2an bgitu kah mas erykar?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *